Kemitraan RS BSH Bogor dengan BPJS Kesehatan sejak Mei 2025 memicu lonjakan kunjungan IGD sebesar 133% hanya dalam tiga bulan pertama. Fenomena ini menciptakan tekanan operasional bagi 9 dokter jaga yang bertugas dalam sistem rotasi unit IGD dan Rawat Inap. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan dokter jaga melalui komparasi ganda antara Metode WISN dan Metode Ilyas, serta mengeksplorasi persepsi beban kerja dokter di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Mixed Methods dengan desain Concurrent Triangulation. Data kuantitatif berasal dari data sekunder dan observasi Time and Motion Study melalui CCTV selama 14 hari. Data kualitatif digali melalui wawancara mendalam terhadap 9 dokter jaga dan 2 manajer. Hasil Penelitian menemukan "paradoks metodologis" di mana metode WISN (mikro) menetapkan kebutuhan 10 dokter, sedangkan metode Ilyas (makro) menunjukkan surplus semu (8 dokter). Secara kuantitatif, WISN mengungkap administrative overload; tugas administrasi JKN menyita waktu 59,5 menit per pasien, melampaui waktu pelayanan klinis (45,5 menit). Secara kualitatif, ditemukan fenomena "dokter klerikal", di mana dokter merasa terjebak dalam rutinitas administratif yang redundan akibat praktik double input (penginputan ganda manual dan digital). Metode WISN terbukti jauh lebih peka menangkap dinamika beban kerja riil di era JKN dibandingkan metode Ilyas. Analisis membuktikan bahwa mempertahankan jumlah 9 dokter saat ini berisiko tinggi terhadap terjadinya medical error dan kelelahan kerja ekstrem (burnout). RS BSH direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan 10 dokter, mengadopsi sistem medical scribe, serta melakukan integrasi digital total guna mengeliminasi inefisiensi akibat double input.
Copyrights © 2026