Unit proses pengolahan air bersih merupakan proses yang penting di industri kelapa sawit untuk kelangsungan kegiatan operasionalnya. Penggunaan air bersih dalam industri kelapa sawit ini relatif besar dan meningkat seiring pertambahan jumlah kebutuhannya. Proses pengolahan air bersih dimulai pengambilan air dari sungai, pengolahan air, sampai menjadi air yang siap digunakan berpotensi menimbulkan adanya emisi yang memberikan dampak ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi besaran emisi dampak lingkungan yang dihasilkan serta merumuskan alternatif perbaikan proses sebagai upaya terhadap pengurangan emisi tersebut. Metode yang diterapkan dalam analisis dampak lingkungan adalah Life Cycle Assessment (LCA) dengan batasan ruang lingkup gate-to-gate, hanya mencakup proses pengolahan air bersih. Kategori dampak emisi yang dianalisis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak SimaPro dengan metode CML-IA baseline, mencakup kategori Global Warming Potential (GWP), asidifikasi, dan eutrofikasi. Studi kasus dilakukan di industri kelapa sawit PT X Bengkulu, industri ini berkapasitas olah 30 ton per jam. Berdasarkan hasil penelitian, setiap produksi 1 Ton crude palm oil (CPO) menghasilkan dampak terhadap lingkungan berupa emisi global warming potential (GWP) sebesar 46,8 kgCO2eq, potensi asidifikasi sebesar 0,331 kgSO2eq, dan eutrofikasi sebesar 0,042 kgPO43-eq. Pemakaian listrik dan aluminium sulfat merupakan kontributor (hotspot) tertinggi terhadap emisi yang dihasilkan. Upaya pengurangan dampak lingkungan yang dapat diterapkan adalah melalui substitusi pemakaian bahan kimia aluminium sulfat dengan PAC untuk proses penjernihan air.