Megawati Bohari
Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penilaian Daur Hidup Pengolahan Air Bersih: Studi Kasus Industri CPO PT X Reko Rinaldo; Megawati Bohari; Griselda Happy Ramadhani
Agroteknika Vol 9 No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i2.658

Abstract

Unit proses pengolahan air bersih merupakan proses yang penting di industri kelapa sawit untuk kelangsungan kegiatan operasionalnya. Penggunaan air bersih dalam industri kelapa sawit ini relatif besar dan meningkat seiring pertambahan jumlah kebutuhannya. Proses pengolahan air bersih dimulai pengambilan air dari sungai, pengolahan air, sampai menjadi air yang siap digunakan berpotensi menimbulkan adanya emisi yang memberikan dampak ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi besaran emisi dampak lingkungan yang dihasilkan serta merumuskan alternatif perbaikan proses sebagai upaya terhadap pengurangan emisi tersebut. Metode yang diterapkan dalam analisis dampak lingkungan adalah Life Cycle Assessment (LCA) dengan batasan ruang lingkup gate-to-gate, hanya mencakup proses pengolahan air bersih. Kategori dampak emisi yang dianalisis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak SimaPro dengan metode CML-IA baseline, mencakup kategori Global Warming Potential (GWP), asidifikasi, dan eutrofikasi. Studi kasus dilakukan di industri kelapa sawit PT X Bengkulu, industri ini berkapasitas olah 30 ton per jam. Berdasarkan hasil penelitian, setiap produksi 1 Ton crude palm oil (CPO) menghasilkan dampak terhadap lingkungan berupa emisi global warming potential (GWP) sebesar 46,8 kgCO2eq, potensi asidifikasi sebesar 0,331 kgSO2eq, dan eutrofikasi sebesar 0,042 kgPO43-eq. Pemakaian listrik dan aluminium sulfat merupakan kontributor (hotspot) tertinggi terhadap emisi yang dihasilkan. Upaya pengurangan dampak lingkungan yang dapat diterapkan adalah melalui substitusi pemakaian bahan kimia aluminium sulfat dengan PAC untuk proses penjernihan air.
PENGARUH KONSENTRASI KOTORAN ITIK TERHADAP PERTUMBUHAN AZOLLA PINNATA Megawati Bohari; Agung Primatara Marwan; Reko Rinaldo; Noprizal; Jeefry Andrian
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2026): AGRO TATANEN Edisi Januari 2026 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55222/gcenjf21

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi kotoran itik terhadap pertumbuhan Azolla pinnata serta menentukan dosis optimal yang mampu memberikan pertumbuhan terbaik tanpa menurunkan kualitas media budidaya. Penelitian dilaksanakan dengan lima perlakuan, yaitu A1 (tanpa kotoran itik), A2 (20% kotoran itik + 80% tanah), A3 (30% kotoran itik + 70% tanah), A4 (40% kotoran itik + 60% tanah), dan A5 (50% kotoran itik + 50% tanah), dengan dosis awal Azolla pinnata sebanyak 200 g/m². Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian kotoran itik memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan Azolla pinnata (P<0,01). Perlakuan A3 memberikan hasil terbaik dengan peningkatan biomassa tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Kotoran itik mengandung unsur hara utama seperti nitrogen (3,40–4,42%), fosfor (15,54–17,20%), dan kalium (8,50–8,63%) yang berperan penting dalam proses fotosintesis serta pembentukan jaringan tanaman. Kandungan nutrisi tersebut mendukung percepatan pembelahan sel dan peningkatan kadar klorofil, sehingga pertumbuhan Azolla pinnata menjadi lebih cepat. Dibandingkan dengan jenis pupuk organik lain seperti kotoran ayam, sapi, atau kompos, kotoran itik memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dan lebih mudah diserap oleh tanaman air. Oleh karena itu, kombinasi 30% kotoran itik dan 70% tanah dapat direkomendasikan sebagai komposisi optimal untuk pertumbuhan Azolla pinnata, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber pupuk organik ramah lingkungan dalam sistem pertanian berkelanjutan.