Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Peningkatan Daya Saing Kerajinan Gerabah melalui Pembinaan Manajerial dan Inovasi Peralatan Produk Art Shop Creative Carving di Banyumulek: Strategy for Enhancing the Competitiveness of Pottery Crafts through Managerial Capacity Building and Production Equipment Innovation at Art Shop Creative Carving in Banyumulek Baiq Dinda Puspita Ayu; Qatrunnada Qatrunnada; Ayu Ambang Lestari; Ni Putu Karinina Febriyanty; Dwi Isma Handayani
DARMADIKSANI Vol 6 No 1 (2026): Edisi Maret
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v6i1.9799

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan daya saing pengrajin gerabah di desa Banyumulek melalui pembinaan manajerial dan inovasi peralatan produksi. Kegiatan dilatarbelakangi oleh permasalahan keterbatasan pengetahuan perajin terkait pencatatan keuangan usaha serta keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi modern. Metode yang digunakan meliputi pelatihan manajerial, pendampingan penggunaan alat pemutar otomatis, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil pre-test menunjukkan pemahaman peserta masih rendah dalam aspek manajemen dan produksi. Setelah pelaksanaan pelatihan dan penerapan teknologi, hasil post-test memperlihatkan peningkatan yang signifikan pada kedua aspek tersebut. Produk teknologi yang dihasilkan mencakup inovasi keras (hard innovation) berupa alat pemutar gerabah otomatis, serta inovasi lunak (soft innovation) berupa modul pembukuan sederhana. Penerapan inovasi ini relevan dengan kebutuhan masyarakat karena langsung menjawab hambatan utama produksi dan manajemen usaha. Partisipasi masyarakat sangat tinggi, ditunjukkan oleh keterlibatan aktif dalam pelatihan, diskusi, dan praktik penggunaan alat. Dampak kegiatan ini antara lain peningkatan produktivitas, efisiensi waktu, dan kualitas produk gerabah yang lebih konsisten. Selain itu, masyarakat juga memperoleh pemahaman baru dalam mengelola keuangan usaha secara lebih tertib. Harapannya, program pengabdian ini dapat berkelanjutan dalam meningkatkan kapasitas manajerial dan produktivitas pengrajin gerabah di desa Banyumulek sehingga mampu memperkuat daya saing usaha secara mandiri dan berkesinambungan.
Estetika Visual Images The Little Prince: Perspektif H.Howard Gardner Dwi Isma Handayani; Muhammad Fathoni
AMARASI: JURNAL DESAIN KOMUNIKASI VISUAL Vol 7 No 1 (2026): Amarasi: Jurnal Desain Komunikasi Visual
Publisher : Program Studi Desain Komunikasi Visual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/amarasi.v7i1.6200

Abstract

Animasi The Little Prince merupakan karya sinematik yang memadukan nilai estetika dan psikologis melalui pendekatan visual yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis estetika visual dalam film tersebut melalui tiga perspektif teoretis, yaitu Significant Form dari Clive Bell, neuroestetika oleh Semir Zeki, dan kecerdasan spasial Howard Gardner. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik analisis visual dan studi pustaka terhadap elemen bentuk, warna, ruang, tekstur, dan komposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa visual dalam The Little Prince tidak hanya berfungsi sebagai pendukung narasi, tetapi juga mampu menstimulasi respons kognitif dan emosional anak secara simultan melalui penggunaan warna pastel, bentuk organik sederhana, serta kontras antara animasi CGI dan stop-motion. Dalam perspektif neurosains, rangsangan visual diproses pada korteks visual, sementara penilaian keindahan dan respons emosional melibatkan orbitofrontal cortex dan sistem limbik, yang berperan dalam memperkuat keterlibatan afektif dan memori visual. Sementara itu, dari perspektif kecerdasan spasial, representasi visual seperti planet, mawar, dan rubah mendorong anak memahami relasi bentuk, ruang, dan simbol secara lebih abstrak melalui integrasi persepsi visual, emosi, dan imajinasi. Temuan ini menegaskan bahwa The Little Prince tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berfungsi sebagai media edukatif yang mendukung perkembangan respons otak dan kecerdasan spasial anak secara holistik.