Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Tata Kelola Pembangunan Manusia Oleh Pemerintah Daerah dalam Menekan Ketimpangan Wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan Andi Rahmat Nizar Hidayat; Tri Cahyo Nugroho
Jurnal Media Administrasi Vol 11 No 1 (2026): April : Jurnal Media Administrasi
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/jma.v11i1.3671

Abstract

This study aims to analyze how human development governance is implemented by the Government of South Sulawesi Province in reducing regional disparities, identify institutional factors influencing implementation quality, and examine its implications for human development outcomes. The study employs a qualitative approach using a case study design. Data were collected through interviews with key informants from the Regional Development Planning Agency (Bappeda) and relevant Regional Apparatus Organizations, analysis of regional planning documents such as RPJMD and RKPD, and statistical data from the Central Bureau of Statistics related to the Human Development Index (HDI), poverty, and employment. Data were analyzed thematically using triangulation to ensure validity of findings. The results show that the Human Development Index has been positioned as a key performance indicator in regional development planning documents and prioritized in education and health sector policies. Although overall HDI achievement in South Sulawesi is categorized as high, significant disparities remain across regencies and municipalities, particularly in education and standard of living. A poverty rate of 8.06 percent and the increasing trend of the Gini Ratio indicate that distribution of welfare has not been fully equitable. Furthermore, the dominance of the informal sector in the employment structure reflects challenges related to job quality, income stability, and limited social protection coverage. These findings suggest that the main challenge of human development in South Sulawesi lies not only in improving aggregate indicators but also in strengthening bureaucratic capacity, cross-sectoral coordination, and policy implementation consistency to ensure more inclusive and equitable development across regions.
Analisis Pengaduan Masyarakat terhadap Pelayanan Publik Melalui Ombudsman Republik Indonesia di Provinsi Sulawesi Selatan Misbahuddin Misbahuddin; Andi Rahmat Nizar Hidayat
Jurnal Media Administrasi Vol 11 No 1 (2026): April : Jurnal Media Administrasi
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/jma.v11i1.3672

Abstract

Public service is a key indicator in evaluating local government performance; however, various service issues continue to generate increasing public complaints. This study aims to analyze trends in public complaints, identify the most frequently reported institutions, and examine the types of maladministration and the status of complaint resolution through the Ombudsman of the Republic of Indonesia in South Sulawesi Province during 2023–2025. This study offers novelty by providing an integrated analysis of complaint trends, distribution of reported institutions, types of maladministration, and resolution outcomes based on Ombudsman data at the regional level. This research employs a qualitative approach using document analysis, with public complaint reports as the unit of analysis. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that local governments are the most frequently reported institutions (55.1%), with dominant maladministration types including procedural deviations and prolonged delays. Several complaints were proven to involve maladministration and were resolved through the Ombudsman’s supervisory mechanism. These findings highlight that public complaints serve as an important instrument in enhancing accountability and transparency in public service delivery. Therefore, local governments need to strengthen service standards, improve the capacity of public officials, and develop more effective complaint management systems.
DINAMIKA KEMISKINAN RELATIF ANTAR PROVINSI DI INDONESIA MENGGUNAKAN PENDEKATAN DATA PANEL DINAMIS SELAMA PERIODE 2018–2023 Andi Rahmat Nizar Hidayat; Muhammad Ishak; Misbahuddin Misbahuddin; Irfan Basyo
Jurnal Wahana Bina Pemerintahan Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pengembangan Studi Pemerintahan Program Pascasarjana Magister(S2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55745/jwbp.v8i1.407

Abstract

Kemiskinan relatif merupakan salah satu indikator penting dalam melihat ketimpangan kesejahteraan antar wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kemiskinan relatif antar provinsi di Indonesia dengan menekankan keterkaitan antar waktu. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan memanfaatkan data panel periode 2018–2023 yang dianalisis melalui model dinamis. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemiskinan relatif memiliki variasi yang cukup besar antar provinsi serta memperlihatkan distribusi yang tidak merata. Pola visualisasi mengindikasikan adanya konsentrasi kemiskinan pada wilayah tertentu dengan perubahan yang cenderung fluktuatif. Estimasi model menunjukkan bahwa kemiskinan relatif pada periode sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap kondisi saat ini, yang menandakan adanya keterkaitan historis yang kuat. Nilai koefisien yang tinggi pada model dinamis memperlihatkan bahwa kemiskinan relatif memiliki sifat persisten. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi cenderung mempertahankan posisinya dalam jangka waktu tertentu. Temuan tersebut mengarah pada indikasi adanya karakter struktural dalam kemiskinan relatif yang membatasi mobilitas kesejahteraan. Penelitian ini menegaskan bahwa kemiskinan relatif tidak dapat dipahami sebagai fenomena jangka pendek. Pendekatan kebijakan yang adaptif, berbasis wilayah, dan berorientasi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi keberlanjutan kemiskinan serta mengurangi ketimpangan antar wilayah
Public Communication in Collaborative Public Management for Blue Economy Governance in Pangkajene and Kepulauan Regency Rezal Hadi Basalamah; Andi Rahmat Nizar Hidayat; Muhammad Ishak
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v11i2.6973

Abstract

This study analyzes public communication in collaborative public management for blue economy governance in Pangkajene and Kepulauan Regency, Indonesia. The study responds to the need to understand blue economy development not only as fisheries, aquaculture, tourism, or marine economic growth, but also as a governance process involving coordination, participation, equity, inclusiveness, and accountability. A qualitative field case study was conducted from February to May 2026 in Mattiro Bombang, Mattiro Kanja, and Sabalana Villages. Data were collected through semi-structured interviews, field observations, focus group discussions, and policy documentation involving 29 informants from local government, village governments, fisher groups, aquaculture farmers, coastal women, micro-enterprises, academics, and community leaders. Data were analyzed through thematic coding, data condensation, data display, and conclusion drawing, supported by triangulation, member checking, and informant anonymization. The findings show that local government has established public communication programs, Musrenbang, public consultations, fisher group development, coordination with extension officers, and monitoring mechanisms. However, these instruments require stronger proposal follow-up, wider communication reach, transparent beneficiary selection, and social accountability. Public communication functions as a managerial instrument for information dissemination, dialogue, aspiration absorption, trust building, policy clarification, and feedback. The study proposes the Good Equity and Inclusiveness Collaborative Blue Economy Governance framework as an initial empirically informed framework consisting of island-based diagnosis, inclusive cross-actor forums, a benefit equity matrix, co-production programs, and adaptive accountability. The framework requires further testing, contextual adaptation, and policy validation before operational adoption by local government institutions in practice.
Fragmentasi Kewenangan dalam Tata Kelola Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Inefisiensi Kebijakan Publik di Indonesia Tri Cahyo Nugroho Cahyo Nugroho; Andi Rahmat Nizar Hidayat
Jurnal Ilmiah Administratie Vol 26 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Administratie Vol. 26 No. 1 Edisi Maret 2026
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2722-8185.824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi fragmentasi kewenangan dalam sistem otonomi daerah terhadap inefisiensi kebijakan publik di Indonesia. Meskipun desentralisasi dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan responsivitas pemerintahan melalui pelimpahan kewenangan kepada daerah, praktik implementasi menunjukkan adanya kompleksitas tata kelola yang berpotensi menimbulkan fragmentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis regulatif terhadap pembagian urusan pemerintahan dalam kerangka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, serta sintesis teoritis antara perspektif desentralisasi dan fragmented governance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmentasi kewenangan termanifestasi dalam bentuk tumpang tindih regulasi, dualisme pengawasan, disharmoni perencanaan, dan segmentasi sektoral antarorganisasi perangkat daerah. Struktur kewenangan yang terdistribusi tanpa integrasi koordinatif yang kuat meningkatkan biaya koordinasi, memperpanjang rantai implementasi, memicu duplikasi program, serta berkontribusi pada pemborosan anggaran dan distorsi tujuan kebijakan. Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas desentralisasi bersifat kondisional dan sangat bergantung pada kapasitas integrasi vertikal dan horizontal antarlevel pemerintahan. Oleh karena itu, reformasi otonomi daerah perlu diarahkan pada penguatan mekanisme koordinasi dan harmonisasi regulasi guna meningkatkan efisiensi kebijakan publik secara sistemik.
Dinamika Pemerintahan Daerah Kabupaten Bone 2026 melalui Analisis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Andi Rahmat Nizar Hidayat; Tri Cahyo Nugroho
Jurnal Ilmiah Administratie Vol 26 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Administratie Vol. 26 No. 1 Edisi Maret 2026
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2722-8185.825

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur, prioritas, dan dinamika kebijakan fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bone Tahun Anggaran 2026 sebagai refleksi dinamika pemerintahan daerah dalam kerangka desentralisasi fiskal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis kebijakan dan analisis dokumen terhadap Peraturan Daerah tentang APBD Tahun 2025–2026, RKPD 2026, serta RPJMD 2025–2029,. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pendapatan daerah masih didominasi oleh transfer pemerintah pusat sebesar 80,91%, meskipun rasio kemandirian fiskal meningkat signifikan dari 11,94% (2025) menjadi 19,09% (2026). Dari sisi belanja, komposisi anggaran masih bertumpu pada belanja operasi (78,67%), sementara belanja modal relatif rendah (5,94%), meskipun mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Secara fiskal, APBD 2026 berada dalam kondisi surplus moderat, yang mencerminkan stabilitas anggaran dengan ruang ekspansi terbatas. Analisis komparatif menunjukkan adanya pergeseran prioritas secara gradual melalui peningkatan PAD dan belanja modal, namun perubahan tersebut bersifat inkremental dan belum mengubah struktur dominan belanja rutin. Temuan ini menegaskan bahwa APBD tidak sekadar dokumen teknokratis, melainkan arena politik kebijakan yang merefleksikan preferensi, kompromi, dan batas struktural hubungan pusat–daerah. Dengan demikian, dinamika fiskal Kabupaten Bone Tahun 2026 menunjukkan fase transisi antara konsolidasi administratif dan upaya penguatan pembangunan strategis dalam kerangka otonomi daerah.
PENINGKATAN KEMAMPUAN LITERASI STATISTIKA SISWA SMP NEGERI 3 PANCA RIJANG Misbahuddin Misbahuddin; Andi Rahmat Nizar Hidayat; Muh Syilfa Nooviar; Muhammad Hidayat. L; Faisal Ardiansyah
JURNAL AKADEMIK PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 4 No. 1 (2026): Januari
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/japm.v4i1.8964

Abstract

Kemampuan literasi statistika merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki peserta didik dalam menghadapi perkembangan informasi berbasis data. Namun, kenyataannya kemampuan literasi statistika siswa masih tergolong rendah, khususnya dalam membaca, menafsirkan, dan menarik kesimpulan dari data. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi statistika dan motivasi belajar siswa melalui pendampingan pembelajaran statistika di SMP Negeri 3 Panca Rijang. Metode pengabdian yang digunakan meliputi tiga tahap, yaitu pra-pendampingan, pendampingan, dan pasca-pendampingan. Tahap pra-pendampingan dilakukan melalui observasi dan identifikasi permasalahan siswa, tahap pendampingan dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran interaktif dan kontekstual, serta tahap pasca-pendampingan dilakukan melalui evaluasi dan refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca dan menafsirkan data, serta peningkatan motivasi dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih percaya diri dan mampu menarik kesimpulan sederhana berdasarkan data yang disajikan. Dengan demikian, pendampingan pembelajaran statistika terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi statistika dan motivasi belajar siswa.