Muhammad Bayu Gumelar
Universitas Kuningan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KEPRIBADIAN TOKOH JAMILA DALAM NASKAH DRAMA “PELACUR DAN SANG PRESIDEN” KARYA RATNA SARUMPAET DITINJAU DARI GERAKAN FEMINISME LIBERAL Muhammad Bayu Gumelar; Ajat Sudrajat; Arip Hidayat
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/nk45td51

Abstract

Penelitian ini merupakan suatu analisis kualitatif tentang kepribadian tokoh Jamila yang terdapat dalam naskah drama “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet ditinjau dari gerakan feminisme liberal. simpulan kepribadian tokoh Jamila; mempunyai kepribadian Koleris; egois, emosional, pemberontak, orang yang bisa berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain, berorientasi pada tujuan, mempunyai kualitas kepemimpianan sejak lahir, mempunyai sikap menantang, keras kepala, bebas, mandiri, disipin dalam hidup, mengoreksi yang tidak benar, serba memaksa, membuat keputusan dengan segala konsekuensinya, mengambil kuasa dengan cepat dan tegas, lebih tertarik mencapai tujuan daripada menyenangkan hati orang lain, kurang ramah tamah, jujur, ingatan kuat, imajinasi kuat, rasa benci kuat, jarang dicintai, banyak orang takut padanya, sulit memahami titik tolak pemikiran orang lain, berjuang sampai tujuan tercapai, pikiran diisi tujuan cita-cita dan rencana, orang yang tekun bekerja, daya tahan kuat, lebih banyak menyelesaikan pekerjaan dari watak lainnya. Kepribadian tokoh Jamila ditinjau dari Gerakan Feminisme Liberal; (1) perempuan harus berpikir rasional, perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki, apabila mendapat represi maka perempuan berhak untuk melawan, (2) menolak pola pikir yang membelenggu untuk tidak mendapat kebahagiaan, (3) memperjuangkan masyarakat agar wajib memberikan pendidikan kepada perempuan seperti halnya pendidikan kepada laki-laki, (4) menolak peran gender yang opresif, yaitu peran yang digunakan sebagai alasan untuk memberikan tempat yang rendah bagi perempuan atau tidak memberikan tempat sama sekali.