Suparmin
Universitas Veteran Bangun Nusantara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HEGEMONI KEKUASAAN DALAM NOVEL 86 KARYA OKKY MADASARI Ilham Bagus Pangestu; Suparmin; Titik Sudiatami
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 19 No 2 (2023)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/q2zgb263

Abstract

ABSTRAK: Teori hegemoni Gramsci memberikan pengaruh terhadap studi sastra. Sastra tidak hanya dipandang sebagai gejala yang diciptakan masyarakat saja, tetapi sastra mampu memberikan makna dan sudut pandangan tentang kekuatan sosial bagi pembacanya. Teori hegemoni Gramsci dan sosiologi sastra digunakan untuk meninjau praktik hegemoni kekuasaan di lingkungan lembaga penegak hukum sebagai pemegang kekuasaan. Gramsci membagi dua wilayah kekuasaan sebuah negara yang meliputi masyarakat politi dan masyarakat sipil. Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan pada penelitian ini untuk menganalisis dan menguraikan temuan berupa fakta bentuk-bentuk hegemoni kekuasaan pada novel 86 karya Okky Madasari. Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk-bentuk praktik hegemoni kekuasaan pada novel 86 karya Okky Madasari. Tinjauan bentuk-bentuk praktik hegemoni kekuasaan pada penelitian ini terbagi atas dua kelas sosial yaitu, masyarakat politik dan masyarakat sipil. Teknik pengumpulan data penelitian ini dilaukan dengan teknik baca, catat dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan dengan identifikasi data, klasifikasi data, analisis data, penarikan simpulan dan pembahasan berdasarkan teori hegemoni Gramsci. Praktik hegemoni kekuasaan yang ditemukan pada penelitian ini sebagai berikut: 1) masyarakat politik yang memanfaatkan kedudukannya untuk menominasi masyarakat sipil melalui bentuk hegemoni kekuasaan berupa sikap penguasa yang berkuasa secara penuh, kekuasaan imbalan dan korup, bersikap kapitalis, sikap solidaritas identitas dan tindak mengancam dan memaksa. 2) masyarakat sipil yang menjadi objek hegemoni merepresentasikan sikapnya dengan cara menentang pemimpin dan penguasa, patuh pada pemimpin atau atasan dan berusaha menyingkirkan penentang.
VARIASI BAHASA SLOGAN PADA IKLAN GOJEK DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Wilsa Fentani; Anisa Puspita Sari; Rifky Sandi Kurniawan; Sri Wahono Saptomo; Suparmin
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.1204

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mengungkap pola variasi bahasa yang digunakan dalam slogan iklan Gojek pada media sosial Instagram serta makna komunikatif yang dibangun melalui penggunaan variasi tersebut. Fenomena bahasa dalam iklan digital menunjukkan kecenderungan adaptasi terhadap dinamika bahasa populer yang berkembang di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda sebagai pengguna utama media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif sosiolinguistik untuk menelaah bentuk, kecenderungan, dan fungsi penggunaan variasi bahasa dalam slogan iklan. Sumber data diperoleh dari slogan iklan yang dipublikasikan pada akun Instagram resmi Gojek, yaitu @gojekindonesia, yang berupa kata dan frasa dalam konten promosi. Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik sadap dan teknik catat, serta diperkuat melalui dokumentasi berupa tangkapan layar. Analisis data menggunakan metode padan ekstralingual untuk menghubungkan unsur kebahasaan dengan konteks sosial, budaya, dan tujuan komunikasi dalam praktik periklanan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi bahasa yang muncul dalam slogan iklan Gojek mencakup tiga bentuk utama, yaitu variasi bahasa gaul (slang), variasi bahasa Indoglish, dan variasi bahasa plesetan. Ketiga bentuk variasi tersebut berfungsi sebagai strategi linguistik untuk membangun kedekatan dengan audiens, memperkuat daya tarik persuasif pesan iklan, serta menciptakan identitas komunikasi yang selaras dengan kultur bahasa digital masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan variasi bahasa dalam slogan iklan tidak hanya berperan sebagai bentuk kreativitas linguistik, tetapi juga sebagai strategi komunikasi yang efektif dalam memperkuat citra merek dan meningkatkan keterlibatan pengguna di ruang media sosial.