Puspita Cahya Achmadi
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ESTIMASI KORELASI GENETIK BOBOT LAHIR INDUK DENGAN BOBOT SAPIH ANAK BABI DUROC DI UPTD PEMBIBITAN TERNAK PAGAL Genoveva Irminoya Nimun; Maria Tarsisia Luju; Puspita Cahya Achmadi
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 14 No 1 (2026): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2026.14.1.79-85

Abstract

Babi Duroc memiliki potensi besar dalam meningkatkan produksi daging yang berkualitas tinggi dan kemampuan tumbuh yang cepat, sehingga menjadi salah satu kunci sukses dalam meningkatkan produksi daging yang berkualitas tinggi dan memenuhi permintaan pasar. Peningkatan produksi ternak dan mutu genetik dapat dicapai melalui seleksi yang didasarkan pada parameter genetik, salah satunya adalah nilai estimasi korelasi genetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi korelasi genetik antara bobot lahir induk dan bobot sapih anak babi Duroc yang dipelihara di UPTD Pagal Kabupaten Manggarai. Data rekording diambil dari 101 ekor anak babi Duroc yang merupakan keturunan 11 ekor induk dan 5 pejantan. Pengumpulan data secara kuantitatif diukur dan dianalisis secara statistik. Variabel yang diamati adalah bobot lahir induk dan bobot sapih anak. Parameter genetik yang dianalisis adalah korelasi genetik. Komponen ragam dan peragam dianalisis pada ragam dan peragam pola satu arah unbalanced design dengan model single pair mating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot lahir dari 11 ekor induk yang dikawini oleh 5 pejantan berbeda babi Duroc sebesar 1,66 kg dan rataan bobot sapih dari 101 ekor anak babi Duroc sebesar 7,19 kg. Nilai estimasi korelasi genetik antara bobot lahir induk dan bobot sapih anak sebesar -0,03 termasuk kategori negatif rendah, sehingga bobot lahir induk tidak dapat dijadikan sebagai indikator dasar seleksi dalam memprediksi bobot sapih anak babi Duroc di UPTD Pembibitan Ternak Pagal. ABSTRACT Duroc pigs have great potential in increasing high-quality meat production and fast growth ability, making it one of the keys to success in increasing high-quality meat production and meeting market demand. Increasing livestock production and genetic quality can be achieved through selection based on genetic parameters, one of which is the estimated value of genetic correlation. The purpose of this study was to determine the estimated genetic correlation between the birth weight of the sow and the weaning weight of Duroc piglets raised at the Pagal UPTD, Manggarai Regency. Recording data was taken from 101 Duroc piglets, which were the offspring of 11 sows and 5 bulls. Data collection was quantitatively measured and analyzed statistically. The variables observed were the birth weight of the sow and the weaning weight of the offspring. The genetic parameter analyzed was genetic correlation. The variance and variance components were analyzed in a one-way unbalanced design with a single pair mating model. The results of the study showed that the average birth weight of 11 sows mated by 5 different Duroc bulls was 1.66 kg, and the average weaning weight of 101 Duroc piglets was 7.19 kg. The estimated genetic correlation value between sow birth weight and offspring weaning weight of -0.03 is included in the low negative category, so that sow birth weight cannot be used as a basic selection indicator in predicting weaning weight of Duroc piglets at the Pagal Livestock Breeding UPTD.
EVALUASI PENERAPAN BIOSEKURITI PADA USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI MANGGARAI NUSA TENGGARA TIMUR Puspita Cahya Achmadi; Maria Aprilliana Ade Karlina; Petrus Canisius Dario Tangi
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 14 No 2 (2026): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2026.14.2.193-200

Abstract

Peningkatan produksi ayam petelur di Kabupaten Manggarai saat ini masih terkendala oleh risiko transmisi penyakit akibat inkonsistensi tata kelola biosekuriti pada usaha peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem biosekuriti pada dua peternakan ayam petelur (layer) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yaitu CV. Tri Mitra Bahagia Tuberti dan PT. Satu Hati. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus komparatif deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Evaluasi dilakukan berdasarkan enam indikator utama, yaitu pengelolaan kandang dan lingkungan, pengendalian penyakit dan kesehatan ayam, pengelolaan pakan dan air, kontrol akses kandang dan mobilitas, pelatihan pekerja, serta keamanan produksi telur. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, kuesioner terstruktur berbasis indikator serta observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CV. Tri Mitra Bahagia Tuberti menerapkan prinsip biosekuriti secara konsisten dengan kategori baik (skor 3), unggul dalam pengelolaan lingkungan kandang, pakan, dan keamanan produk. Sebaliknya, PT. Satu Hati berada pada kategori cukup baik (skor 2) dengan keunggulan spesifik hanya pada aspek pengendalian penyakit. Kedua peternakan masih menghadapi tantangan pada lemahnya kontrol mobilitas kendaraan dan minimnya pelatihan pekerja. Diperlukan tindakan strategis dalam penguatan standard operating procedure (SOP) biosekuriti sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan peternakan layer di wilayah Manggarai. ABSTRACT The increase in layer chicken production in Manggarai Regency is currently hindered by the risk of disease transmission resulting from inconsistent biosecurity management in poultry farms. This study aims to evaluate the implementation of biosecurity systems at two layer chicken farms in Manggarai Regency, East Nusa Tenggara: CV. Tri Mitra Bahagia Tuberti and PT. Satu Hati. The research employed a quantitative descriptive comparative case study approach utilizing a purposive sampling technique. The evaluation was based on six key indicators: housing and environmental management; disease control and chicken health; feed and water management; housing access control and mobility; worker training; and egg production safety. Data collection was conducted through interviews, structured indicator-based questionnaires, and direct observation. The results indicated that CV. Tri Mitra Bahagia Tuberti consistently implemented biosecurity principles, achieving a "good" rating (score of 3), and excelled in housing environment, feed, and product safety management. Conversely, PT. Satu Hati was classified in the "fairly good" category (score of 2), demonstrating a specific advantage only in disease control. Both farms still faced challenges regarding weak vehicle mobility control and a lack of worker training. Strategic actions are required to strengthen biosecurity Standard Operating Procedures (SOPs) to improve the productivity and resilience of layer farms in the Manggarai region.