Husnul Khatimah
Institut Muslim Cendekia Sukabumi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Facilitator empowerment as a catalyst for entrepreneurial character and economic self-reliance of zakat beneficiaries: Evidence from BAZNAS Republik Indonesia Husnul Khatimah; Qurroh Ayuniyyah; Popy Novita Pasaribu; Immas Nurhayati
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 24 No. 1 (2026): Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/alqodiri.v24i1.22

Abstract

Productive zakat programs in Indonesia continue to encounter structural challenges in achieving sustainable mustahik empowerment, as many initiatives remain focused on short-term capital distribution rather than long-term capacity building. This study aims to examine how facilitator empowerment and catalytic roles influence mustahik empowerment by positioning entrepreneurial character as a mediating variable. A quantitative explanatory design was employed using survey data collected from mustahik participating in productive zakat programs, which were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to assess both direct and indirect relationships among constructs. The findings indicate that facilitator empowerment and catalytic roles significantly enhance the entrepreneurial character of mustahik; however, their direct effects on empowerment outcomes are not statistically significant. Instead, entrepreneurial character emerges as the dominant factor and fully mediates the relationship between facilitation processes and empowerment outcomes. These results highlight that sustainable empowerment is primarily driven by internal transformation reflected in entrepreneurial attitudes and behaviors. In conclusion, zakat-based empowerment strategies should shift from output-oriented approaches toward strengthening entrepreneurial character through structured mentoring and catalytic facilitation, thereby promoting long-term economic self-reliance among mustahik.
Pola Tarbiyah Islamiah dalam Pembentukan Karakter Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran di Lingkungan Keluarga Dzakiyah Azzahra; Husnul Khatimah; Rizal Firdaus
Al-Wajih: The Journal of Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2026): Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54213/9smkty65

Abstract

Pembentukan karakter anak dalam lingkungan keluarga menjadi hal penting dalam proses pendidikan Islam, terutama karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda berdasarkan pengalaman pengasuhan dan urutan kelahirannya. Namun, kajian mengenai pola tarbiyah islamiyyah dalam pembentukan karakter anak berdasarkan urutan kelahiran masih belum banyak dibahas secara khusus dalam lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola tarbiyah islamiyyah dalam pembentukan karakter anak berdasarkan urutan kelahiran di lingkungan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian dilakukan pada dua keluarga yang memiliki beberapa anak dengan urutan kelahiran berbeda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara semi terstruktur kepada orang tua sebagai informan utama. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tarbiyah islamiyyah diterapkan melalui pembiasaan ibadah, keteladanan, nasihat, dan pendekatan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh pengasuhan, lingkungan keluarga, serta urutan kelahiran anak dalam keluarga. Anak pertama cenderung lebih disiplin dan bertanggung jawab dibandingkan saudara lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola tarbiyah islamiyyah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak dilingkungan keluarga serta dapat menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan islami.