Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Komunikasi Dakwah Melalui Konten Humor Pada Akun Instagram @memeislam.id Ach. Atikul Ansori
JDARISCOMB: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 6 No. 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/jdariscomb.v6i2.5111

Abstract

The Instagram account @memeislam.id is one of the digital da’wah media that utilizes humorous content in the form of memes to deliver Islamic messages to a wider audience. This phenomenon shows that social media is not only used for entertainment but also serves as a space for spreading Islamic values in a creative and easily accepted way. This study aims to analyze the communication strategy of da’wah through humorous content and to identify the meaning of da’wah messages contained in memes on the @memeislam.id account. The method used is qualitative with a literature review approach and semiotic analysis based on Ferdinand de Saussure’s theory, which emphasizes the relationship between the signifier and the signified. The results show that meme content on the account contains da’wah messages covering aspects of aqidah (faith), sharia (Islamic law), and akhlaq (morality). In addition, the communication strategy through humor-based personal branding is effective in increasing message reach and gaining positive responses from social media users. Keywords: digital da’wah; meme; semiotics; personal branding
Bentuk Komunikasi Transendental Terhadap Implikasi Bagi Kehidupan Manusia Ach. Atikul Ansori
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9mhq4w08

Abstract

This study aims to explain the phenomenon of tawhid as the foundation of transcendental communication from an Islamic perspective, encompassing the theological, philosophical, and epistemological dimensions of communication. This research employs a qualitative-descriptive approach using literature analysis of various classical and contemporary Islamic sources relevant to the concepts of tawhid and communication. Through this approach, the study seeks to identify the correlation between divine consciousness (tawhid) and human communication processes as spiritual activities. The findings indicate that tawhid is not merely a religious doctrine but also an epistemological paradigm that positions God as the central orientation of communication (theocentric paradigm). Within this framework, communication is understood as a process of divine awareness that connects human beings with God, the self, and others, while embodying moral and prophetic ethical values. The study further affirms that the tawhid paradigm can reconstruct modern communication theories, which tend to be anthropocentric, toward a more holistic and transcendental communication model. The main conclusion asserts that tawhid functions as a philosophical, normative, and spiritual foundation for the development of an Islamic communication paradigm oriented toward truth, balance, and moral responsibility. These findings open opportunities for further development of communication studies grounded in revelation and spirituality. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tauhid sebagai basis komunikasi transendental dalam perspektif Islam, dengan ruang lingkup yang mencakup dimensi teologis, filosofis, dan epistemologis komunikasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis literatur terhadap berbagai sumber keislaman klasik maupun kontemporer yang relevan dengan konsep tauhid dan komunikasi. Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menemukan korelasi antara kesadaran ketuhanan (tauhid) dengan proses komunikasi manusia sebagai aktivitas spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar doktrin keagamaan, tetapi juga paradigma epistemologis yang menempatkan Tuhan sebagai pusat orientasi komunikasi (theocentric paradigm). Dalam kerangka ini, komunikasi dipahami sebagai proses kesadaran ilahiah yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, diri, dan sesama, serta mengandung nilai moral dan etika profetik. Penelitian ini juga menegaskan bahwa paradigma tauhid dapat merekonstruksi teori komunikasi modern yang cenderung antroposentris, menuju model komunikasi yang lebih holistik dan transendental. Kesimpulan utama menyatakan bahwa tauhid berperan sebagai landasan filosofis, normatif, dan spiritual bagi pembentukan paradigma komunikasi Islam yang berorientasi pada kebenaran, keseimbangan, dan tanggung jawab moral. Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut terhadap ilmu komunikasi berbasis wahyu dan spiritualitas.
Penanganan Kasus Pelecehan Seksual dalam Perspektif Kesetaraan Gender: Studi Kasus Dua Artikel Berita Kompas.Com dan Detik.Com Ach. Atikul Ansori; Astriliani Astriliani; Sri Agusni Azizah; Ralisma Andika Wati
Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi) Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Pusat Studi GESI - UWP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38156/gesi.v5i1.214

Abstract

Kasus dugaan pelecehan seksual verbal di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2026 menjadi perhatian publik dan diberitakan oleh sejumlah media online, termasuk Kompas.com dan Detik.com. Penelitian ini merupakan studi kasus kualitatif yang bertujuan menganalisis secara mendalam bagaimana dua artikel berita satu dari Kompas.com dan satu dari Detik.com membingkai kasus tersebut, menggunakan model analisis framing Robert N. Entman yang meliputi define problems, diagnose causes, make moral judgement, dan treatment recommendation. Kedua artikel dipilih secara purposive karena membahas peristiwa yang sama namun menonjolkan sudut pandang berbeda, sehingga memungkinkan perbandingan framing secara mendalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa artikel Kompas.com yang dianalisis menggunakan framing prosedural dan institusional dengan menekankan investigasi kampus serta mekanisme penyelesaian internal. Sebaliknya, artikel Detik.com yang dianalisis membingkai kasus sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan berbasis gender dengan menonjolkan perlindungan korban, penerapan UU TPKS, dan edukasi gender. Kedua artikel sama-sama tidak menampilkan victim blaming secara eksplisit, namun suara korban belum dihadirkan secara langsung. Sebagai studi kasus, temuan ini hanya berlaku pada kedua artikel yang dianalisis dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kecenderungan framing Kompas.com maupun Detik.com secara umum. Temuan tetap memberikan gambaran awal yang relevan mengenai praktik jurnalisme berperspektif gender dalam pemberitaan kekerasan seksual di Indonesia.