Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Framing Media terhadap Isu Relokasi Pedagang Blok M Dwi Aryo Penangsang; Nanang Haroni
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 5, No 1 (2025): Desember 2025
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v5i1.4962

Abstract

Transformasi kawasan Blok M sebagai bagian dari pembangunan kota Jakarta memunculkan dinamika sosial ekonomi yang kompleks. Kenaikan harga sewa dan relokasi pedagang dari Blok M Plaza 2 ke Blok M Hub menimbulkan perdebatan antara modernisasi kota dan keberlanjutan usaha kecil. Dalam konteks tersebut, media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap arah pembangunan dan nasib pelaku UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media daring Kompas.com dan Liputan6.com membingkai isu tersebut melalui pendekatan framing Robert N. Entman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis framing terhadap dua berita digital yang diterbitkan pada September 2025. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, pembacaan mendalam teks berita, pengkodean berdasarkan empat elemen framing Entman (define problems, diagnose causes, make moral judgment, dan suggest remedies), serta interpretasi hasil secara komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com menyoroti isu Blok M sebagai ketimpangan kebijakan publik, sementara Liputan6.com lebih menonjolkan narasi kemanusiaan dan harapan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa media berperan strategis dalam membentuk pemahaman publik mengenai pembangunan kota kreatif dan keberlanjutan sosial.Kata kunci - Blok M, framing, Kompas, Liputan 6, UMKM
Komodifikasi Nilai Islam Di Media Sosial: Analisis Semiotika Roland Barthes Pada Reels Instagram @Duha.Muslimwear Dwi Aryo Penangsang
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v3i2.9952

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang dominan dalam representasi nilai-nilai keislaman, termasuk dalam strategi pemasaran brand busana muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses komodifikasi nilai-nilai Islam direpresentasikan melalui simbol-simbol visual dalam konten video reels Instagram Duha Muslimwear. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes, yang membagi makna ke dalam tiga tingkat: denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian berupa salah satu konten reels @duha.muslimwear yang menampilkan narasi visual bertema spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti kuda, langkah tanpa alas kaki, pencahayaan dramatis, serta detail bordiran pada busana tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga menyampaikan pesan ideologis yang membentuk narasi tentang kemenangan spiritual, kesalehan, dan identitas muslim modern. Komodifikasi nilai Islam dilakukan melalui strategi soft selling yang menyentuh aspek emosional dan identitas konsumen, sehingga menjadikan produk busana sebagai simbol dari nilai-nilai religius. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial menjadi arena penting dalam reproduksi simbol agama yang tidak hanya bersifat persuasif, tetapi juga ideologis. Penelitian ini merekomendasikan agar studi serupa dikembangkan pada objek dan platform yang berbeda, serta mempertimbangkan perspektif audiens agar diperoleh pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana makna keislaman diterima dan dikonstruksi dalam komunikasi pemasaran digital. Social media has become a dominant space for representing Islamic values, including in the marketing strategies of Muslim fashion brands. This study aims to analyze how the commodification of Islamic values is represented through visual symbols in a video reel content posted by Duha Muslimwear on Instagram. Using a qualitative descriptive approach and Roland Barthes' semiotic theory, this research breaks down the meaning into three levels: denotation, connotation, and myth. The object of the study is a visual narrative contained in one of Duha Muslimwear’s reels that presents spiritual-themed messaging. The results show that visual elements such as a horse, barefoot walking, dramatic lighting, and detailed embroidery are not merely aesthetic features but carry ideological messages that build a narrative of spiritual victory, piety, and modern Muslim male identity. The commodification of Islamic values is conducted through soft-selling strategies that appeal to emotional and identity-based dimensions of the consumer, positioning fashion not only as a product but also as a symbol of religiosity. The study concludes that social media serves as an important arena for the reproduction of religious symbols that function not only persuasively but also ideologically. It is recommended that further research explore similar representations across various brands and platforms, while also incorporating audience reception perspectives to gain a more holistic understanding of how Islamic values are interpreted and reconstructed in digital marketing communication.