Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas dan Ancilliary pada Kawasan Strategis Pariwisata di Kabupaten Wonosobo Zam Zam Masrurun; Arina Nindyar Saraswati; Hardiman Hardiman; Atika Nur Hidayah; Andreas Yogi Prasetyo
TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination Vol. 5 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/toba.v5i1.7520

Abstract

This study examines the condition of attractions, accessibility, amenities, and ancillary services within the Strategic Tourism Area of Kertek, Wonosobo Regency. Using a descriptive qualitative approach supported by field observations, interviews, and secondary document analysis, the research provides an integrated assessment of tourism components that shape the area’s development potential. Findings reveal that the region possesses a strong concentration of natural, special-interest, agro-tourism, and cultural–religious attractions, forming a diversified tourism landscape. Accessibility is supported by national and regional road networks, although local village roads and public transport connectivity remain limited. Amenities are primarily concentrated in urban corridors, resulting in service gaps in rural areas where key attractions are located. Ancillary support involving government agencies, local communities, and private actors is present but requires stronger institutional coordination to ensure cohesive governance. The study concludes that the Kertek tourism area holds substantial potential to strengthen Wonosobo’s tourism competitiveness. However, maximizing these potential demands improvements in intra-area connectivity, equitable distribution of visitor facilities, and enhanced collaborative governance to support sustainable tourism development.
Memaknai Ritual Seba Baduy untuk Pariwisata: Bagaimana Budaya Diterjemahkan Ke Wisatawan Hardiman Hardiman; Arina Nindyar Saraswati; Zam Zam Masrurun; Atika Nur Hidayah
TOBA: Journal of Tourism, Hospitality, and Destination Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/toba.v4i4.6730

Abstract

paragraph Cultural tourism is increasingly in demand by tourists looking for authentic and transformative experiences. One of the traditions that has great potential is the Seba Baduy ritual, which is an annual procession of the Baduy people that contains spiritual, social, and ecological values. This research aims to interpret the symbolism in the Seba Baduy ritual and analyze how the culture is translated and perceived by tourists. This study uses a qualitative descriptive design, data collection is carried out by means of observation, interviews, documentation and observational literature studies, in-depth interviews, and literature analysis. The results of the study show that attributes in rituals, such as traditional clothing, travel procedures, and offering processions, are seen as representations of harmony between humans, nature, and ancestors. Tourists interpret this ritual as an authentic cultural experience, which not only offers tourist attractions but also provides a new understanding of local wisdom. In conclusion, Seba Baduy can play a role as a model for the development of cultural tourism that not only provides economic benefits, but also maintains the preservation of customary values. The implication of this research is the importance of collaboration between local communities, governments, and tourism actors to create sustainable promotion and management strategies.
Strategi Pengembangan Potensi Agrowisata di Kawasan Perdesaan Kanigara Kabupaten Wonosobo Zam Zam Masrurun; Ayu Annisa Annasihatul Ainaqo; Pramudya Adhi Nugroho; Ahmad Dani Dahlan
Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata Vol. 8 No. 2 (2025): Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Perdesaan Kanigara merupakan salah satu kawasan perdesaan yang dikembangkan di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kawasan ini memiliki posisi strategis karena dilalui oleh jalur penghubung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur-Dieng dan sekaligus jalur utama Kabupaten Purworejo-Kabupaten Wonosobo. Pada sebagian wilayahnya, Kawasan ini merupakan sabuk hijau Proyek Strategis Nasional Bendungan Bener. Data RTRW Kabupaten Wonosobo menunjukkan bahwa lebih dari 75% lahan Kawasan Kanigara merupakan kebun campuran dengan komoditas terbanyak antara lain durian, kelapa, manggis, dan duku. Tumbuhnya peluang sektor pariwisata di Kabupaten Wonosobo dan adanya amanat RPJMD Kabupaten Wonosobo mendorong adanya peningkatan potensi lokal Kawasan Kanigara untuk mengembangkan pertanian dan agrowisata. Studi ini bertujuan menganalisis komoditas pertanian yang dianggap unggulan oleh masyarakat Kawasan Kanigara dalam mendorong potensi pengembangan pertanian dan agrowisata. Metode analisis yang digunakan yaitu perhitungan jumlah produksi komoditas pertanian dengan berdasarkan hasil survei lapangan dan wawancara yang didukung dengan analisis komparasi, nilai ekonomi menggunakan analisis produktivitas masing-masing komoditas pertanian, dan pengembangan agrowisata menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis perhitungan jumlah produksi komoditas pertanian menunjukkan bahwa durian memiliki luas panen dan jumlah produksi tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Kemudian dari analisis nilai ekonomi, duku dan durian pada tingkat petani memiliki nilai ekonomi yang paling tinggi. Namun demikian, empat komoditas utama di Kawasan Kanigara tersebut dapat dikembangkan seluruhnya melalui diversifikasi produk serta pengembangan agrowisata. Analisis agrowisata menggambarkan adanya potensi obyek wisata, amenitas, dan aksesibilitas Kawasan Kanigara yang dapat mendorong pengembangan agrowisata kawasan. Strategi pengembangan agrowisata Kawasan Kanigara diantaranya dapat dilakukan melalui diversifikasi atraksi wisata yang berbeda dengan agrowisata lain, peningkatan fasilitas pendukung agrowisata, branding dan pemasaran, serta peningkatan kapasitas SDM lokal.