Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Upaya Peningkatan Preventif dan Rehabilitatif dalam Mengontrol Gula Darah rizky wulandari
Surya Edukasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2, No 2 (2025): Surya Edukasi : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/se.v2i2.10425

Abstract

Elderly people over 50 years of age are at risk of developing degenerative diseases, one of which is diabetes mellitus. Complications of diabetes mellitus, if not properly managed, will cause disorders of the blood vessels, both macrovascular and microvascular, disorders of the nervous system or what is known as neuropathy. This complication occurs in people with diabetes mellitus who have had a long time or who have just been diagnosed with DM. Macrovascular complications of diabetes mellitus occur in the heart, brain, and blood vessels. Microvascular disorders occur in the eyes and kidneys, neuropathy complaints can also be experienced by people with DM in the form of motor, sensory, and autonomic neuropathy. Community service activities were carried out in May 2025 in the Sendnag Mulyo sub-district, Sleman, Yogyakarta, attended by 20 elderly people with the approach taken in the form of socialization and carrying out low-impact aerobic exercise. This activity focuses on the elderly's understanding of diabetes mellitus, containing material on diabetes mellitus, risk factors, the impact of diabetes mellitus, and how to prevent it with low-impact aerobic exercise. The results of the pre- and post-tests from this community service activity showed that participants were able to increase their knowledge about blood sugar levels and learn alternative ways to manage blood sugar through low-impact aerobic exercise.
Perbedaan Pengaruh Brisk Walking Exercise dan Resistance Training terhadap Kualitas Tidur Remaja dengan Insomnia di MAN 1 Sleman Dinda Gladys Canakya; Lailatuz Zaidah; Rizky Wulandari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1037

Abstract

Kurang tidur pada remaja telah menjadi masalah kesehatan global yang dapat memengaruhi kesehatan serta performa akademik. Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2024, sekitar 72,7% pelajar sekolah menengah mengalami durasi tidur yang tidak mencukupi. Remaja saat ini rentan mengalami insomnia akibat kebiasaan tidur larut malam dan pola tidur yang tidak teratur. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, gangguan metabolik, gangguan kesehatan mental, penurunan konsentrasi belajar, hingga gangguan kardiovaskular. Intervensi nonfarmakologis seperti Brisk Walking Exercise dan Resistance Training diketahui dapat membantu meningkatkan kualitas tidur melalui peningkatan relaksasi tubuh, pengeluaran energi, serta penurunan stres.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh dari pemberian intervensi Brisk Walking Exercise dan Resistance Training terhadap peningkatan kualitas tidur remaja dengan insomnia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode quasi-experimental. Responden penelitian berjumlah 34 pelajar yang dipilih menggunakan teknik gender-matched group sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar penilaian Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan Fatigue Assessment Scale (FAS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test menggunakan SPSS Series 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh Brisk Walking Exercise terhadap kualitas tidur remaja dengan insomnia dengan nilai p < 0,001. Terdapat pengaruh Resistance Training terhadap kualitas tidur remaja dengan insomnia dengan nilai p < 0,001. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,379 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara Brisk Walking Exercise dan Resistance Training terhadap kualitas tidur remaja dengan insomnia. Kesimpulan penelitian ini adalah Brisk Walking Exercise dan Resistance Training sama-sama berpengaruh terhadap peningkatan kualitas tidur pada remaja dengan insomnia. Namun, tidak terdapat perbedaan pengaruh antara kedua intervensi tersebut terhadap kualitas tidur remaja dengan insomnia.
Hubungan Posisi Kerja dan Postur Pelvic dengan Risiko Musculoskeletal Disorders pada Karyawan Pabrik Konveksi Perempuan Nevita Lutfia Ningrum; Asyhara Naela Arifin; Rizky Wulandari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1049

Abstract

Musculoskeletal Disorders (MSDs) telah berkembang menjadi krisis kesehatan global yang memengaruhi 1,71 miliar orang di dunia (WHO) dan menjadi penyebab utama disabilitas kronis menurut studi Global Burden of Disease 2021. Di Indonesia, sektor konveksi menyumbang sekitar 20-30% kasus MSDs pada pekerja perempuan menurut data Kementerian Kesehatan (2022), dengan gejala seperti nyeri punggung bawah, leher, dan pinggul yang dapat berkembang menjadi kondisi kronis. Dampak serius MSDs tidak hanya menurunkan produktivitas kerja hingga 40% akibat absensi dan penurunan kinerja, tetapi juga memicu kecacatan permanen, biaya pengobatan yang tinggi, serta beban psikososial seperti depresi dan penurunan kualitas hidup. Untuk mengetahui hubungan antara posisi kerja dan postur pelvic terhadap risiko keluhan Musculoskeletal Disorders pada karyawan pabrik konveksi perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 65 karyawan perempuan yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar penilaian REBA untuk posisi kerja, clinometer untuk mengukur postur pelvic, dan kuesioner NBM untuk risiko Musculoskeletal Disorders. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan korelasi Spearman dan analisis multivariat menggunakan Smart-PLS. Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden terpapar risiko posisi kerja kategori tinggi (62%) dan memiliki postur pelvic kategori netral (70%). Risiko MSDs mayoritas berada pada kategori rendah (89%). Hasil uji hipotesis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara posisi kerja dengan keluhan MSDs (p = 0,731) serta tidak terdapat hubungan mediasi postur pelvic yang signifikan dalam model penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah posisi kerja dan postur pelvic tidak memiliki hubungan signifikan terhadap risiko MSDs pada karyawan perempuan di Lotus Glove.