Abstract: Kekerasan berbasis gender (KBG) di lingkungan kampus merupakan fenomena sosial yang menunjukkan bahwa ruang pendidikan tinggi belum sepenuhnya bebas dari relasi kuasa patriarkal. Kasus pembacokan terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2026 dengan motif penolakan asmara memperlihatkan bagaimana relasi romantis dapat berkembang menjadi kekerasan ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam dinamika sosial, konstruksi maskulinitas, serta pengalaman mahasiswa dalam memaknai fenomena kekerasan berbasis gender bermotif asmara di lingkungan kampus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan mahasiswa serta analisis dokumen sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan bermotif asmara tidak hanya dipengaruhi faktor emosional individual, tetapi juga berkaitan dengan struktur patriarki dan konstruksi maskulinitas hegemonik yang memandang penolakan perempuan sebagai ancaman terhadap identitas maskulin. Selain berdampak pada korban secara psikologis dan akademik, peristiwa tersebut juga memunculkan rasa tidak aman dalam lingkungan kampus. Oleh karena itu, penguatan kebijakan pencegahan, edukasi kesetaraan gender, serta pengembangan pembelajaran berbasis masalah menjadi langkah penting dalam mencegah kekerasan berbasis gender di perguruan tinggi. Keywords: Kekerasan Berbasis Gender, Patriarki, Maskulinitas Hegemonik, Relasi Asmara, Lingkungan Kampus