Aini Inayati
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi Ahmad Zaki Naufal; Istiqomah Istiqomah; Aini Inayati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2650

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease that is common in the elderly and can lead to serious complications if not properly controlled. Physical activity such as morning walks is a non-pharmacological intervention that is easy and safe to perform. Purpose: To determine the effect of morning walks on blood pressure in elderly people with hypertension. Method: This study used a quasi-experimental design with a nonequivalent control group. A sample of 34 elderly people was selected using a purposive sampling technique. Respondents were divided into a control group and a treatment group. Data analysis used an independent t-test for systolic and diastolic blood pressure. Results: The average systolic blood pressure after morning walking in the control group was 144.72 mmHg, while the average diastolic blood pressure was 88.35 mmHg. In the treatment group, the average systolic blood pressure after morning walking was 130.18 mmHg, while the average diastolic blood pressure was 79.82 mmHg. The difference in systolic blood pressure after morning walking was 14.54 mmHg, and the difference in diastolic blood pressure was 8.63 mmHg. Conclusion: Morning walking has an effect on blood pressure in elderly people with hypertension.   Keywords: Elderly; Hypertension; Morning Walk; Physical Activity.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak terjadi pada lansia dan dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Aktivitas fisik seperti jalan pagi merupakan salah satu intervensi non farmakologis yang mudah dan aman dilakukan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan rancangan nonequivalent control group. Sampel sebanyak 34 lansia dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Responden dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Teknik analisis data menggunakan Independent t-Test untuk tekanan darah sistolik dan diastolik. Hasil: Rata-rata tekanan darah sistolik sesudah aktivitas fisik jalan pagi pada kelompok kontrol adalah 144.72 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 88.35 mmHg. Pada kelompok perlakuan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah aktivitas fisik jalan pagi adalah 130.18 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 79.82 mmHg. Selisih tekanan darah sesudah aktivitas fisik jalan pagi sistolik adalah 14.54 mmHg dan selisih tekanan darah diastolik adalah 8.63 mmHg. Simpulan: Ada pengaruh aktivitas fisik jalan pagi terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Hipertensi;Jalan Pagi; Lansia.
Hubungan fungsi kognitif terhadap e-health literacy pada pasien dengan diabetes militus tipe 2 Rafikah Safitri; Aini Inayati; Wantonoro Wantonoro
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2761

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) has experienced a significant increase globally and is a major health problem. High blood glucose levels in people with T2DM stimulate pro-inflammatory cytokine activity through various biochemical mechanisms within cells, ultimately leading to dysfunction of the blood vessel endothelium. Purpose: To determine the relationship between cognitive function and e-Health literacy in patients with T2DM. Method: This study was condudcted in primary health care in Indonesia using across-sectional design. The study was carried out at jetis community healt canter (puskesmas jetis), Yogyakarta city. The sample was taken by convenience sampling. Results: The mean age of respondents was 68.64 years, with an average duration of diabetes of 5.89 years. Most respondents were female (51.8%) and had completed senior high school education (65.9%). The results showed a significant positive correlation between cognitive function and e-Health literacy (p = 0.001; r = 0.487), indicating a moderate strength of association Conclusion: There is a significant relationship between cognitive function and e-Health literacy in older adults with Type 2 Diabetes Mellitus. Better cognitive function is associated with higher levels of e-Health literacy.   Keywords: Cognitive Function; Diabetes Mellitus; E-Health Literacy.   Pendahuluan: Diabetes mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) mengalami peningkatan yang signifikan secara global dan menjadi salah satu permasalahan kesehatan utama di dunia. Kadar glukosa darah yang tinggi pada penderita Diabetes Melitus akan merangsang aktivitas sitokin proinflamasi melalui berbagai mekanisme biokimia di dalam sel yang pada akhirnya menyebabkan disfungsi pada endotel pembulu darah. Tujuan: Mengetahui Hubungan Fungsi Kognitif terhadap e-Health Literasi Pada Pasien dengan DM Tipe 2. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian cross-sectional yang dilakukan di di wilayah kerja Puskesmas Jetis, Kota Yogyakarta yang berjumlah 85 responden. Variabel penelitian terdiri dari fungsi kognitif dan E-Health Literacy. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Spearman Rank Hasil: Rerata usia responden adalah 68.64 tahun dengan rerata lama menderita DM selama 5.89 tahun. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (51.8%) dan berpendidikan terakhir SMA (65.9%). Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara fungsi kognitif dengan e-Health literacy (p = 0.001; r = 0.487). Nilai korelasi menunjukkan kekuatan hubungan sedang dengan arah positif. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan e-Health literacy pada lansia dengan Diabetes Melitu Tipe2.   Kata Kunci: Diabetes Militus; E-Health Literacy; Fungsi Kognirif.