Latar belakang: Rendahnya penerimaan diri pada penyakit CKD yang diderita dan kebutuhan menjalani program hemodialiasis memengaruhi mekanisme koping pasien CKD. Ketidakmampuan mengontrol koping diri mengakibatkan kondisi penyakit yang dihadapi menjadi sebuah stressor dan sumber masalah sehingga akan meningkatkan kecemasan diri pasien. Tujuan penelitian ini yaitu supaya tahu hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani hemodialisis. Metode penelitian ini memakai desain korelasi dan melibatkan populasi penelitian yaitu pasien CKD di ruang inap interna RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen. Teknik sampling yang diterapkan pada penelitian ini yaitu total sampling dengan total sampel penelitian banyaknya 42 orang responden. Instrument yang diterapkan di penelitian ini yaitu kuesioner Jalowiec Coping Scale untuk menilai mekanisme koping responden dan kuesioner Hospital Anxiety And Depression Scale (HADS) untuk menilai tingkat kecemasan responden. Hasil Penelitian: Hasil analisis univariat diperoleh mayoritas mekanisme koping responden penelitian dalam kategori mekanisme koping maladaptive yaitu banyaknya 25 orang (59,5%) dan Tingkat kecemasan respoden mayoritas dalam kategori kecemasan sedang yaitu banyaknya 19 orang (45,2%). Analisis bivariat memakai uji Spearman Rank diperoleh p value 0,001 dan nilai correlation Coefficient sebesar -0, 771. Dengan demikian ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien CKD yang menjalani hemodialisis dengan tingkat kekuatan hubungan kedua variable penelitian ini sangat kuat (0,76-0,99) dengan arah variable penelitian ini yaitu negatif. Simpulan penelitian ini yaitu mekanisme koping berhubungan dengan tingkat kecemasan pasien. Edukasi dan dukungan emosi dan sosial sangat dibutuhkan pasien CKD yang menjalani hemodialisis agar tidak mengalami kecemasan yang berkelanjutan.