Abstrak Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim. Namun, hasi Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) 2025 dinyatakan bahwa tingkat indeks literasi syariah masih rendah yaitu 43,42% secara khusus di kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satu SMA Negeri Surabaya yang juga menghadapi permasalahan literasi perbankan syariah adalah SMAN 17. Hasil evaluasi materi bank syariah mencapai rata-rata nilai 60. Berdasarkan pada permasalahan tersebut maka pelatihan operasional bank syariah pada garda depan merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan literasi. Hasil dari pelatihan tersebut diperoleh nilai rata-rata 4,42 untuk materi dan narasumer 4,52. Tingkat pengetahuan para siswa juga meningkat signifikan dari nilai rata-rata 6,00 menjadi 8,56 atau 43%. Para siswa mengikuti pelatihan dengan antusias karena kegiatan pelatihan tidak hanya sekedar memberikan teori tetapi para siswa diberi kesempatan untuk bermain peran sebagai petugas garda depan dengan mengoperasikan aplikasi bank syariah sebagai media pembelajaran. Kata kunci: bank syariah; literasi; siswa; SMA. Abstract Indonesia is a country where most of the population is Muslim. However, the 2025 National Financial Literacy Survey (NFLS) showed that the sharia literacy indeks remains low at 43.42%; especially among high school students. One public high school in Surabaya facing this issue is SMAN 17, where the average score for Islamic banking material was only 60. Based on this problem, front-office operational training for Islamic banking was considered an appropriate method to improve literacy. The training results revealed an average score of 4.42 for the material and 4.52 for the trainers. Students’ knowledge also increased from an average of 6.00 to 8.56 or 43%. They participated enthusiastically because the training did not only provide theory but also allowed them to role-play as front-line officers using Islamic banking application as a learning tool. Keywords: islamic bank; literacy; senior high school; student.