p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal EDUTECH SOSHUM
Lilik Kusnadi
Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KOMUNITAS MELALUI TEOLOGI PEMBEBASAN: KONTRIBUSI Y.B MANGUNWIJAYA BAGI GERAKAN KEADILAN SOSIAL DI INDONESIA Lilik Kusnadi
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 2 No. 4 (2025): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/bz4dvy78

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan menganalisis kontribusi teologi pembebasan Y.B. Mangunwijaya terhadap pemberdayaan komunitas dan pembentukan gerakan keadilan sosial dalam konteks Indonesia. Teologi pembebasan Mangunwijaya dipandang sebagai respons kontekstual terhadap ketimpangan sosial dan kemiskinan struktural yang unik di Indonesia. Menggunakan pendekatan narrative review teologis-kualitatif, penelitian ini dibangun di atas kerangka teologi sistematis, kontekstual, dan praksis, dengan fokus pada interpretasi kritis atas karya-karya primer dan sekunder Mangunwijaya. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Mangunwijaya mengembangkan konsepsi pembebasan sebagai humanisasi menyeluruh, yang menempatkan pemulihan martabat manusia sebagai inti refleksi, melampaui emansipasi ekonomi semata. Teologi ini berkarakter praksis, yang dimanifestasikan dalam aksi nyata seperti pendidikan emansipatoris dan penataan permukiman, memandang komunitas miskin sebagai agen perubahan yang aktif. Kontribusinya bersifat ganda: ia menguatkan teologi kontekstual Indonesia dalam diskursus Global South dan berfungsi sebagai suara profetis yang mengkritik dosa struktural dan religiusitas apolitis. Kesimpulan utama adalah bahwa teologi pembebasan Mangunwijaya telah berkontribusi signifikan dalam membangun paradigma pemberdayaan komunitas berbasis iman yang transformatif, menegaskan relevansi teologi sebagai jembatan antara iman, praksis, dan keadilan sosial.
PEMAHAMAN FILOSOFIS GURU KRISTEN DAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN HOLISTIK: STUDI KASUS SEKOLAH KRISTEN DI DEPOK Lilik Kusnadi
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/04vx3766

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana pemahaman filosofis guru  yang dalam tradisi pendidikan Kristen sering disebut Christian worldview dimanifestasikan dalam praktik pedagogi holistik di ruang kelas. Studi ini berangkat dari kegelisahan bahwa sekolah Kristen kerap hanya berbeda dari sekolah sekuler pada tataran simbolik (doa pagi, mata pelajaran agama) tanpa disertai transformasi cara pandang guru terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga terjadi dikotomi antara pengetahuan "sekuler" dan "sakral" (Blomberg, 1980, sebagaimana dikutip dalam Rifai, 2025; Holmes, 1987). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal, penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah Kristen di Kota Depok, Jawa Barat, dengan lima informan guru yang dipilih secara purposive, satu kepala sekolah sebagai informan triangulasi, dan observasi kelas pada sepuluh sesi pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas non-partisipan, dan studi dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kemudian dianalisis dengan analisis tematik enam-fase (Braun & Clarke, 2006). Hasil penelitian ilustratif menunjukkan empat pola manifestasi: (1) internalisasi worldview Kristen membentuk lensa interpretatif guru terhadap materi ajar sejak tahap perencanaan, bukan sekadar tambahan di akhir sesi; (2) kedalaman pemahaman filosofis berkorelasi dengan kemampuan guru melakukan integrasi organik pada mata pelajaran yang secara konvensional dipandang netral seperti sains dan matematika; (3) keterbatasan waktu refleksi serta tekanan kurikulum nasional menjadi penghambat utama translasi filosofi ke praktik; dan (4) komunitas praktik antar guru berperan sebagai mediator yang memperkuat konsistensi integrasi lintas mata pelajaran. Temuan ini memperkuat argumen bahwa efektivitas pembelajaran holistik bukan semata fungsi dari metode pedagogis, melainkan bergantung pada kedalaman epistemologis guru dan dukungan struktural sekolah (Knight, 2006; Van Brummelen, 2009). Implikasinya, penguatan kapasitas filosofis-teologis guru   yang dirancang secara berbeda untuk rumpun mata pelajaran eksakta dan humaniora   perlu menjadi prioritas dalam pengembangan profesional berkelanjutan di sekolah Kristen.