Rani Irinericy
Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, West Java, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ADOLESCENT REPRODUCTIVE HEALTH: THE RELATIONSHIP BETWEEN SEXUAL LITERACY AND SEXUALLY TRANSMITTED DISEASE PREVENTION Rani Irinericy
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 1 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/wdgkqv88

Abstract

Sexually transmitted infections (STIs) represent a significant reproductive health issue among adolescents both globally and in Indonesia, with particularly high prevalence among individuals aged 15–24 years. Adolescent knowledge of STIs remains limited, and previous studies have often overlooked psychosocial and contextual factors that mediate the relationship between sexual literacy and STI prevention behaviors. This study aims to analyze the extent to which sexual literacy influences STI prevention behaviors among adolescents and to identify the mediating roles of attitudes, self-efficacy, and access to sexual health information. This study employed a Systematic Literature Review (SLR) approach based on the PRISMA 2020 guidelines. Data were collected from the Scopus and Web of Science databases, applying inclusion criteria of empirical articles published in English or Indonesian between 2010–2025, focusing on sexual literacy, STI prevention behaviors, and adolescent populations. Data analysis was conducted using thematic coding and thematic synthesis. Findings revealed that sexual literacy significantly influences STI prevention behaviors, including condom use, routine testing, and open communication. Positive attitudes toward sexual health, high self-efficacy in sexual decision-making, and access to accurate information play crucial mediating roles. The study also confirmed the dominant use of the Theory of Planned Behavior (TPB) and the Health Belief Model (HBM) as theoretical frameworks. Sexual literacy, mediated by attitudes, self-efficacy, and access to information, is a strong predictor of STI prevention behaviors among adolescents. These findings provide an empirical foundation for developing more comprehensive and targeted sexual education programs, taking into account psychosocial and contextual factors to enhance the effectiveness of interventions.
PENINGKATAN KAPASITAS REMAJA DALAM PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI DAN PENYAKIT MENULAR MELALUI EDUKASI DIGITAL Rani Irinericy; Musdalipa Musdalipa; Herianti Herianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2025): Pengabdian Masyarakat
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/dqaxfb48

Abstract

Pernikahan dini merupakan masalah serius di Kabupaten Tasikmalaya, khususnya Kecamatan Karangnunggal, dengan peningkatan signifikan permohonan dispensasi nikah anak dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini berdampak multidimensi pada remaja, meliputi risiko komplikasi kesehatan reproduksi, penularan penyakit menular seksual, serta hambatan pendidikan yang memperkuat lingkaran kemiskinan. Rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan minimnya komunikasi orang tua-remaja memperburuk kerentanan ini. Menanggapi permasalahan tersebut, program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas remaja (13-19 tahun) dan orang tua dalam pencegahan pernikahan dini dan penyakit menular melalui edukasi digital. Metode Participatory Action Approach digunakan dengan tahapan survei awal, pelatihan literasi digital, edukasi kesehatan reproduksi melalui modul digital interaktif (video, infografis, kuis online), dan sesi diskusi remaja-orang tua. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test, kuesioner sikap, serta observasi partisipasi digital. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan lebih dari 20% pada remaja dan orang tua, serta partisipasi aktif dalam grup WhatsApp edukatif. Keunggulan program terletak pada pendekatan digital yang relevan, keterlibatan orang tua, dan kolaborasi multi-pihak. Namun, keterbatasan akses internet dan resistensi budaya menjadi tantangan. Program ini berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran, serta mendorong komunikasi terbuka antar generasi, dengan rekomendasi untuk perluasan program, dukungan kebijakan lokal, dan kolaborasi lintas sektor demi keberlanjutan.