Michael Benedict Sanjaya
Universitas Nasional Karangturi Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Program BPJS Kesehatan pada Pelayanan Kesehatan Penyakit Tidak Menular di Indonesia: Systematic Review Meita antindi; Michael Benedict Sanjaya; Brigita Marza Naveli Netar; Giyantolin Giyantolin
Jurnal Rekam Medis & Manajemen Infomasi Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/jurmik.v5i2.481

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) hingga saat ini masih menjadi tantangan utama dalam sistem kesehatan Indonesia karena tingginya angka kejadian, kebutuhan pengobatan jangka panjang, serta dampaknya terhadap pembiayaan kesehatan nasional. Pemerintah melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan berupaya menjamin akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, termasuk dalam penanganan PTM di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Namun demikian, implementasi program BPJS Kesehatan dalam mendukung pelayanan PTM masih menghadapi sejumlah kendala di berbagai wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis implementasi program BPJS Kesehatan dalam menunjang pelayanan penyakit tidak menular di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui database PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect dengan rentang publikasi lima tahun terakhir (2021–2025). Artikel yang dipilih diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang relevan dengan topik penelitian. Hasil telaah menunjukkan bahwa program BPJS Kesehatan berkontribusi dalam meningkatkan akses dan kontinuitas pelayanan pengobatan bagi pasien PTM. Meskipun demikian, masih ditemukan berbagai tantangan, antara lain keterbatasan fasilitas kesehatan mitra, ketimpangan pembiayaan rujukan, serta belum optimalnya pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan memiliki peran penting dalam memperkuat pelayanan PTM di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan, serta optimalisasi upaya promotif dan preventif guna mendukung pelayanan PTM yang berkelanjutan.
RISIKO LEPTOSPIROSIS PADA AKTIVITAS KERJA PETUGAS KEBERSIHAN DI KOTA SEMARANG: STUDI KUALITATIF: LEPTOSPIROSIS RISK IN THE WORK ACTIVITIES OF SANITATION WORKERS IN SEMARANG CITY: A QUALITATIVE STUDY Aerrosa Murenda Mayadilanuari; Meita Fransiska Dara Antindi; Aliya Rachma Tingka Pitatan; Adellia Retno Sulistyana; Crishtopher Arthur Fernando; Michael Benedict Sanjaya
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.525

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja dengan paparan lingkungan berisiko tinggi seperti petugas kebersihan. Tingginya kasus leptospirosis di Kota Semarang menunjukkan adanya potensi risiko yang signifikan pada kelompok pekerja ini, terutama di wilayah yang sering banjir dan memiliki sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko leptospirosis berdasarkan kondisi lingkungan kerja, aktivitas kerja, pemahaman, persepsi risiko, perilaku pencegahan, serta dukungan yang diterima petugas kebersihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap tujuh petugas kebersihan, serta triangulasi sumber untuk meningkatkan validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja didominasi oleh kondisi berisiko seperti genangan air, lingkungan lembap, drainase terbuka, dan keberadaan tikus, serta aktivitas kerja yang melibatkan kontak langsung dengan sampah basah dan air kotor yang dilakukan secara berulang. Penggunaan alat pelindung diri belum dilakukan secara konsisten, dan pemahaman responden mengenai leptospirosis masih terbatas meskipun terdapat kesadaran terhadap risiko pekerjaan. Selain itu, keterbatasan edukasi kesehatan dan dukungan institusi turut memengaruhi upaya pencegahan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa petugas kebersihan memiliki risiko tinggi terhadap leptospirosis sehingga diperlukan penguatan edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, serta perbaikan sistem keselamatan dan kesehatan kerja sebagai upaya pencegahan yang berkelanjutan. Kata kunci: Kesehatan kerja, Leptospirosis, Petugas kebersihan, Studi kualitatif Leptospirosis is a zoonotic disease that remains a significant public health problem, particularly among workers exposed to high-risk environmental conditions, such as sanitation workers. The high incidence of leptospirosis in Semarang City indicates a substantial risk for this occupational group, especially in flood-prone areas with inadequate environmental sanitation. This study aimed to analyze the risk of leptospirosis based on working environmental conditions, work activities, knowledge, risk perception, preventive behavior, and institutional support among sanitation workers. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through field observations and in-depth interviews with seven sanitation workers. Source triangulation was applied to enhance data validity. The findings revealed that the working environment was dominated by high-risk conditions, including standing water, humid environments, open drainage systems, and the presence of rodents, as well as routine activities involving direct contact with wet waste and contaminated water. The use of personal protective equipment (PPE) was not consistently practiced, and respondents’ knowledge of leptospirosis remained limited despite their awareness of occupational health risks. In addition, limited health education and institutional support contributed to inadequate preventive practices. In conclusion, sanitation workers are at high risk of leptospirosis, highlighting the need for strengthened health education, improved compliance with PPE use, and enhanced occupational health and safety systems as sustainable preventive measures. Keywords: Leptospirosis, Occupational Health, Qualitative Study, Sanitation Workers