Pengeringan gabah merupakan tahapan penting dalam proses pascapanen padi, namun metode tradisional yang mengandalkan sinar matahari masih menghadapi berbagai kendala, terutama ketergantungan pada kondisi cuaca dan durasi pengeringan yang panjang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 7 November 2025 di Dusun Blawen, Desa Rejoslamet, Kabupaten Jombang ini bertujuan memberikan solusi melalui penerapan teknologi mesin pengering gabah untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengeringan. Metode Community Based Research (CBR) digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan, merancang teknologi yang sesuai kebutuhan, melaksanakan pelatihan, dan melakukan evaluasi kinerja mesin. Mesin pengering yang dirancang memiliki kapasitas 5–25 kg, dilengkapi sistem pemantauan suhu dan berat gabah, serta mekanisme pemilah sekam. Hasil evaluasi menunjukkan mesin mampu mempertahankan suhu pengeringan pada kisaran 65–75 °C serta menghasilkan penurunan berat gabah yang konsisten. Berdasarkan perhitungan kadar air berbasis penurunan berat diperoleh sekitar 21–22% wb dalam 10 menit pengeringan, menunjukkan proses penguapan air telah berlangsung meskipun belum mencapai standar penyimpanan. Demonstrasi praktik juga mengidentifikasi beberapa aspek teknis yang perlu diperbaiki, seperti celah pada tutup drum dan efisiensi pemilahan sekam. Secara keseluruhan, program ini meningkatkan pemahaman teknis dan keterampilan operasional petani, serta memberikan dampak positif bagi peningkatan produktivitas dan keberlanjutan pengolahan pascapanen, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Zero Hunger