Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Model Komunikasi dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Sikap Remaja Terhadap Deteksi Dini Penyakit Tuberkulosis Uswatun Khasanah; Rusnita Rusnita; Idhar Darlis
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.22978

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a public health problem; early detection among adolescents requires a communication approach tailored to the school context. This study aimed to assess the effect of a participatory communication model on adolescents’ knowledge and attitudes regarding early TB detection. A quantitative quasi-experimental study with a pretest–posttest control group design was conducted at SMAN 21 Makassar. The population comprised all 11th-grade students; a sample of 206 was calculated using Slovin’s formula (5%) and evenly allocated to an intervention group (n=103) and a control group (n=103) by class to minimize contamination. Measurements employed standardized questionnaires before and after the intervention. Assumption tests included Shapiro–Wilk and Levene; within-group analyses used paired t-tests or Wilcoxon signed-rank tests according to distribution. Results showed that, in the intervention group, mean knowledge increased from 13.21±2.10 to 16.44±1.95 (Δ=3.23±1.55; p0.001), whereas in the control group it rose from 13.08±2.05 to 13.87±2.18 (Δ=0.79±2.19; p=0.059). The proportion with “adequate” knowledge increased from 49.5% to 84.5% in the intervention group but decreased from 44.6% to 40.8% in the control group. Mean attitude scores in the intervention group increased from 11.93±2.00 to 15.67±1.98 (Δ=3.74±1.67; p0.001), while the control group showed a smaller increase from 12.04±2.05 to 13.00±2.00 (Δ=0.96±1.95; p=0.080). Conclusion: the participatory communication model effectively improves adolescents’ knowledge and fosters positive attitudes toward early TB detection, and is therefore suitable for integration into school-based health promotion programs. Keywords: Communication Model, Knowledge, Adolescents, Attitudes, Tuberculosis.  ABSTRAK Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan publik; deteksi dini pada remaja memerlukan pendekatan komunikasi yang sesuai konteks sekolah. Penelitian ini bertujuan menilai pengaruh model komunikasi partisipatif terhadap pengetahuan dan sikap remaja terkait deteksi dini TBC. Studi kuantitatif quasi-eksperimental dengan pretest–posttest control group dilaksanakan di SMAN 21 Makassar. Populasi adalah seluruh siswa kelas XI; besar sampel 206 orang dihitung dengan Slovin (5%) dan dialokasikan seimbang ke kelompok intervensi (n=103) dan kontrol (n=103) berbasis kelas untuk meminimalkan kontaminasi. Pengukuran menggunakan kuesioner terstandar sebelum dan sesudah intervensi. Uji asumsi meliputi Shapiro–Wilk dan Levene; analisis dalam-kelompok menggunakan paired t atau Wilcoxon sesuai distribusi. Hasil menunjukkan pada kelompok intervensi rerata pengetahuan meningkat dari 13,21±2,10 menjadi 16,44±1,95 (Δ=3,23±1,55; p0,001), sedangkan kontrol 13,08±2,05 menjadi 13,87±2,18 (Δ=0,79±2,19; p=0,059). Proporsi pengetahuan “cukup” naik dari 49,5% menjadi 84,5% pada intervensi dan turun dari 44,6% menjadi 40,8% pada kontrol. Rerata sikap pada intervensi naik dari 11,93±2,00 menjadi 15,67±1,98 (Δ=3,74±1,67; p0,001), sedangkan kontrol meningkat kecil dari 12,04±2,05 menjadi 13,00±2,00 (Δ=0,96±1,95; p=0,080). Simpulan: model komunikasi partisipatif efektif meningkatkan pengetahuan dan membentuk sikap positif remaja terhadap deteksi dini TBC, sehingga layak diintegrasikan dalam program promosi kesehatan berbasis sekolah. Kata Kunci: Model Komunikasi, Pengetahuan, Remaja, Sikap, Tuberkulosis.
Efektivitas Pendekatan Edukasi Metode Ceramah dan Media Audiovisual Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja dalam Pencegahan Stunting Rusnita Rusnita; Uswatun Khasanah; Idhar Darlis
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22888

Abstract

ABSTRACT Stunting remains a major public health problem in Indonesia, particularly in South Sulawesi, which recorded a high prevalence of 27.4% in 2023. Adolescents, as future parents, play a crucial role in breaking the intergenerational cycle of stunting; therefore, effective nutrition education strategies are needed. This study aimed to analyze the effectiveness of lecture methods and audiovisual media in improving adolescents’ knowledge of stunting prevention. A quasi-experimental design with a pretest–posttest control group approach was employed involving 164 eleventh-grade students at SMA Negeri 1 Enrekang, divided into two groups: 82 respondents in the lecture group and 82 respondents in the audiovisual group. A questionnaire was administered before and after the intervention, and data were analyzed using paired sample t-test and independent t-test with a significance level of α = 0.05. The results showed that the lecture method increased knowledge scores from 0.35 to 0.60, but the change was not statistically significant (p = 0.072). In contrast, audiovisual media significantly increased knowledge scores from 0.37 to 0.85 (p = 0.000). An independent t-test also revealed a significant difference between the two groups (t = −5.285; p = 0.000). Thus, audiovisual media was proven to be more effective than the lecture method in enhancing adolescents’ knowledge of stunting prevention. It is recommended that audiovisual media be integrated into adolescent health education programs in schools and communities to support accelerated stunting reduction efforts. Keywords: Stunting, Adolescents, Nutrition Education, Lecture Method, Audiovisual Media.  ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan yang mencatat prevalensi tinggi mencapai 27,4% pada tahun 2023. Remaja sebagai calon orang tua memiliki peran penting dalam memutus siklus intergenerasional stunting, sehingga diperlukan strategi edukasi gizi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode ceramah dan media audiovisual terhadap peningkatan pengetahuan remaja dalam pencegahan stunting. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest with control group pada 164 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Enrekang yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 82 responden pada kelompok ceramah dan 82 responden pada kelompok audiovisual. Instrumen berupa kuesioner diberikan sebelum dan sesudah intervensi, dengan analisis data menggunakan paired sample t-test dan independent t-test pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ceramah meningkatkan skor pengetahuan dari 0,35 menjadi 0,60 namun tidak signifikan (p = 0,072), sedangkan media audiovisual meningkatkan skor pengetahuan dari 0,37 menjadi 0,85 secara signifikan (p = 0,000). Uji independent t-test juga menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (t = −5,285; p = 0,000). Dengan demikian, media audiovisual terbukti lebih efektif dibandingkan ceramah dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan stunting, sehingga disarankan untuk diintegrasikan ke dalam program edukasi kesehatan remaja baik di sekolah maupun di komunitas guna mendukung percepatan penurunan angka stunting. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Edukasi Gizi, Metode Ceramah, Media Audiovisual.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Stunting: Program Edukasi Gizi untuk Ibu Hamil dan Anak Balita Idhar Darlis; Rusnita Rusnita; Uswatun Khasanah
Window of Community Dedication Journal Vol. 5 No. 2 (Desember,2024)
Publisher : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal FKM UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/wocd.v5i2.2256

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi serius di Indonesia, ditandai dengan tinggi badan anak yang di bawah standar usia normal, yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan kognitif mereka. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas, terutama program edukasi gizi untuk ibu hamil dan anak balita, sangat penting dalam mengatasi masalah ini. Kegiatan penyuluhan dilakukan di Desa Kalimporo, Kecamatan Bangkala, dengan melibatkan 30 warga menggunakan metode ceramah dan diskusi. Proses penyuluhan terdiri dari dua tahap: persiapan dan pelaksanaan, yang mencakup pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dari rata-rata nilai pre-test 17.33 menjadi post-test 23.77, dengan p-value 0.000 yang menandakan perbedaan signifikan. Standar deviasi post-test yang lebih rendah menunjukkan peningkatan homogenitas pengetahuan di antara peserta. Program edukasi ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya gizi bagi ibu hamil dan anak balita, tetapi juga menekankan perlunya keterlibatan masyarakat untuk memastikan penerapan pengetahuan yang diperoleh. Dengan pendekatan inovatif seperti pelatihan makanan bergizi dan penggunaan media digital, diharapkan dapat mengurangi prevalensi stunting dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di Indonesia.