Hypercholesterolemia is a lipid metabolism disorder characterized by elevated total blood cholesterol levels and is one of the major risk factors for cardiovascular disease. The proper use of antihypercholesterolemic drugs is essential to achieve therapeutic success, and one of the factors assumed to influence it is the patient’s level of knowledge. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and the appropriateness of antihypercholesterolemic drug use among patients at pharmacies in Kaliwungu District, Kudus. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. Samples were selected using purposive sampling, involving 103 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected using validated and reliable questionnaires, then analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most respondents had a moderate level of knowledge, namely 55 respondents (53.4%), while the appropriateness of drug use was also mostly in the moderate category, namely 63 respondents (61.2%). The bivariate analysis showed χ² = 17.079 with a p-value = 0.002 (p < 0.05), indicating a significant relationship between the level of knowledge and the appropriateness of antihypercholesterolemic drug use. It can be concluded that the better the patient’s level of knowledge, the more appropriate the use of antihypercholesterolemic drugs tends to be. ABSTRAK Hiperkolesterolemia merupakan gangguan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total dalam darah dan menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia sangat penting untuk mencapai keberhasilan terapi, dan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi adalah tingkat pengetahuan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia pada pasien di 15 apotek Kecamatan Kaliwungu Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 103 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 55 orang (53,4%), sedangkan ketepatan penggunaan obat sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 63 orang (61,2%). Hasil uji bivariat menunjukkan nilai χ² = 17,079 dengan p-value = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik tingkat pengetahuan pasien, maka akan semakin tepat penggunaan obat anti hiperkolesterolemia.