Erlina Zulkifli Mahmud
Padjadjaran University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pasangan Ajasensi dan Ragam Keigo dalam Drama Shoujiki Fudousan: Analisis Pragmatik. Aliza Gibran Lohjinawi; Yuyu Yohana Risagarniwa; Erlina Zulkifli Mahmud
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/6kbq2j03

Abstract

Salah satu jenis analisis percakapan adalah pasangan ajasensi atau adjacency pairs. Pasangan ajasensi dapat ditemukan dalam keigo atau ragam hormat dalam bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis pasangan ajasensi honorifik dan menganalisis jenis honorifik dalam bahasa Jepang di Drama Shoujiki Fudousan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data diambil dari drama Shoujiki Fudousan season 1 (2022) yang terdiri dari 10 episode. Objek kajian berupa pasangan ajasensi dan jenis keigo yang digunakan dalam drama Shoujiki Fudousan. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat. Analisis data menggunakan metode padan pragmatis dan padan referensial. Untuk teknik analisis data menggunakan teknik Teknik Unsur Penentu (PUP). Penyajian data disajikan secara informal. Hasil penelitian menunjukkan dalam drama Shoujiki Fudousan ditemukan 15 jenis pasangan ajasensi yang ditemukan dalam drama Shoujiki Fudousan di antaranya: Memperkenalkan diri-salam; Sapaan-sapaan; Tanya-jawab; Penawaran-penerimaan; Penawaran-penolakan; Permintaan-Penerimaan; Permintaan-Penolakan; Komplain-penerimaan; Komplain-penolakan; Kerja sama-kerja sama ; Pujian-Penerimaan; Teguran-Penerimaan; Teguran-penolakan; Saran-menolak; Permintaan maaf-menolak. Selain itu, ditemukan 125 data keigo yang terdiri atas teineigo (65 data), kenjougo (17 data), dan sonkeigo (43 data). Berdasarkan temuan ini menunjukkan keigo dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penanda kesopanan tetapi juga sebagai pengatur dinamikan percakapan melalui pasangan ajasensi.