Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Diakonia Reformatif: Aksi Nyata Gereja Sebagai Agen Kerukunan Sosial Yoell Ervandy
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 6, No 1 (2026): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia (April 2026)
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v6i1.161

Abstract

The challenges of life in an increasingly complex and developing era greatly affect society. Changes and upheavals in all aspects of life in Indonesia have caused uncertainty. Adding to this, a multicultural environment filled with differing viewpoints makes community life even more complex. This research presents the church not only as a strengthener of the congregation's faith amidst controversy, but also as a bringer of real impact in life. Using a descriptive qualitative research method with a literature review. Producing a study that discusses the church as an agent that transcends differences and brings harmony for the sake of social love. From public health, children's education, and daily living needs. Facing every challenge that exists while still embodying Christ's love for all people. An ecumenical and synergistic church for inclusive social interests will bring innovation in addressing problems that arise in the field. Overall, reformative diakonia is a response from the church that must indeed be manifested when seeing the increasingly developing needs of the times. A response rooted in Christ's just and enduring love can be expressed thru church actions focused on service that can bring about a positive reformation in social life.AbstrakTantangan kehidupan di zaman yang semakin kompleks dan berkembang sangat mempengaruhi masyarakat. Perubahan dan gejolak seluruh aspek kehidupan di Indonesia menyebabkan sebuah ketidakpastian. Di tambah sebuah lingkungan hidup yang multikultural dan dipenuhi perbedaan pandangan menjadikan kehidupan bermasyarakat kian pelik. Dalam penelitian ini menghadirkan gereja yang bukan hanya sebagai penguat iman jemaat di tengah polemik, namun juga membawa sebuah dampak nyata dalam kehidupan. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan kajian literatur. Menghasilkan sebuah penelitian yang membahas gereja sebagai agen yang melampaui perbedaan dan membawa kerukunan demi sebuah kasih sosial. Mulai dari kesehatan masyarakat, pendidikan anak-anak dan kebutuhan hidup sehari-hari. Menghadapi setiap tantangan yang ada namun tetap mewujud nyatakan kasih Kristus bagi semua orang. Gereja yang ekumenis dan bersinergi demi kepentingan sosial yang inklusif akan membawa sebuah inovasi dalam menghadapi permasalah yang muncul di lapangan. Secara keseluruhan, diakonia reformatif adalah suatu respon gereja yang memang harus diwujud nyatakan saat melihat kebutuhan zaman yang makin berkembang. Respon yang beranjak dari kasih Kristus yang adil dan berkelanjutan dapat dinyatakan melalui tindakan gereja yang berfokus pada pelayanan yang dapat mebawa sebuah reformasi dalam kehidupan sosial yang menjadi lebih baik.
FATHERLESSNESS PADA ANAK: PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP PEMBENTUKAN KONSEP DIRI Esra Sitanggang; Yoell Ervandy
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 2 (2026): Februari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena fatherlessness, atau ketiadaan figur ayah, kini makin lazim di keluarga modern, disebabkan oleh perceraian, kematian, migrasi kerja, atau absennya kehadiran emosional. Kondisi ini berdampak besar pada pembentukan konsep diri anak, mencakup aspek emosional, psikologis, dan spiritual. Penelitian ini bertujuan meneliti fenomena fatherlessness dan dampaknya terhadap konsep diri anak dari sudut pandang Pendidikan Agama Kristen (PAK). Metode yang diterapkan adalah penelitian kualitatif melalui studi pustaka (library research), menganalisis literatur ilmiah, teologi, dan psikologi perkembangan dengan analisis isi (content analysis). Temuan menunjukkan bahwa absennya ayah menciptakan kekosongan emosional yang memengaruhi identitas, harga diri, dan kemampuan berelasi anak. Dalam perspektif PAK, pembentukan konsep diri anak bukan hanya psikologis, melainkan juga teologis, di mana identitas sejati anak berakar pada pemahaman bahwa mereka adalah ciptaan Allah yang berharga. Gereja dan komunitas Kristen berperan penting melalui pendampingan pastoral, mentoring, dan pengajaran yang memperkuat identitas anak di dalam Kristus. Penelitian ini menekankan kebutuhan pendekatan holistik yang menggabungkan dimensi teologis, pedagogis, dan pastoral untuk memulihkan serta memperkuat konsep diri anak yang mengalami fatherlessness.