Fajar Rizki
Program Studi Pengelolaan Hasil Perkebunan Politeknik Negeri Pontianak, Sabang Merah, Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia, 78513

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LIFE CYCLE ASSESSMENT OF GRANULATED COCONUT SUGAR PRODUCTION FARMERS LEVEL IN PURWOREJO Rizki, Fajar; Ismayana, Andes; Yani, Moh
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 35 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24961/j.tek.ind.pert.2025.35.1.1

Abstract

Granulated coconut sugar is a powdered coconut sugar manufactured by Purworejo farmers from the sap of the coconut. Farmers' usage of simple technologies is the primary cause of environmental problems due to poor efficiency levels and uncontrolled emission emissions. The objectives of this research were to identify the stages of the granulated coconut sugar production farmer level process, from coconut sap to farmers' granulated coconut sugar, and then analyze the total environmental impact of granulated coconut sugar production farmer level process using the Life Cycle Assessment (LCA) approach and the CML-IA Baseline calculation method. The study's scope included an inventory of "gate-to-gate" inputs and outputs, computation of each stage of the process from sap heating to granulated coconut sugar, and interpretation of the calculation results. The amount of impact created per 1 kg of farmer-produced coconut sugar was employed as the unit of function in the analysis of the consequent environmental impact. SimaPro 9.4.0.2 software was used to calculate environmental impact analysis. The GWP impact of manufacturing 1 kilogram of farmer granulated coconut sugar was 4.76E-02 kg CO2 eq, the AP impact was 9.45E-04 kg SO2 eq, and the EP impact was 2.77E-04 kg PO4 eq. The biggest GWP effect contribution indicator was the use of LPG, which was 2.89E-02 kg CO2 eq, while the largest AP and EP impact contribution indicator was the use of firewood, which was 8.16E-04 kg SO2 eq and 2.12E-04 kg PO4 eq. The improvement scenario of the granulated coconut sugar production farmer level process, namely substituting the use of firewood with rice husks, reduces 85% of the total AP impact and reduces 93% of the total EP impact. Keywords: environmental impact, granulated coconut sugar, life cycle assessment, SimaPro
Pemanfaatan limbah produksi karet alam dan potensi konversinya menjadi hasil samping yang bernilai tambah: Sebuah tinjauan literatur Gea, Anesti Viantika; Aisyah, Intan; Rizki, Fajar
Journal of Tropical AgriFood Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.8.1.2026.22916.1-8

Abstract

Industri pengolahan karet alam di Indonesia, yang merupakan komoditas ekspor utama, menghadapi tantangan serius dari limbah cair dan padat seperti serum lateks, lumpur, biji karet, dan cangkang biji karet. Limbah-limbah ini memiliki komponen berharga tetapi juga dapat merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Mempertimbangkan kesulitan dalam pengelolaan limbah dan peluang untuk meningkatkan nilai, tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi konversi produk sampingan dan limbah dari pengolahan karet menjadi berbagai produk bernilai tambah. Tinjauan ini dilakukan secara sistematis dengan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis literatur ilmiah (2015–2025) dari basis data seperti Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis limbah memiliki potensi konversi yang signifikan: serum lateks dapat diubah menjadi pestisida biologis, lumpur dapat menjadi biogas atau arang aktif, biji karet dapat digunakan untuk biodiesel atau produk pangan, dan cangkang biji karet dapat dibuat menjadi arang aktif atau biobriket. Potensi ini mengubah limbah menjadi aset, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung keberlanjutan industri. Meskipun terdapat tantangan seperti komposisi bahan baku yang bervariasi, kebutuhan detoksifikasi, dan biaya investasi awal, keberhasilan pemanfaatan potensi ini bergantung pada pengembangan teknologi konversi yang efisien, penerapan konsep biorefineri terpadu, dan dukungan regulasi yang kuat.
Peningkatan Nilai Tambah Produk Pangan Lokal UMKM melalui Workshop Pengemasan, Pelabelan, dan Regulasi Pangan di Kabupaten Sanggau Sethyo Vieni Sari; Marselus Hendro; Dody Radiansah; Yuni Selvianti Sari; Yulius Beni; Vika Yudistina; Intan Aisyah; Anesti Viantika Gea; Fajar Rizki
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.21262

Abstract

Background: Kabupaten Sanggau memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan lokal, tetapi pelaku UMKM masih menghadapi kendala dalam pengemasan, pelabelan, dan regulasi pangan yang memengaruhi daya saing produk. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan UMKM pangan lokal dalam teknik pengemasan, pelabelan yang informatif, dan pemahaman regulasi pangan untuk mendukung peningkatan nilai tambah dan perluasan pasar. Metode: Kegiatan dilaksanakan melalui workshop yang meliputi penyampaian materi, demonstrasi penggunaan alat kemasan, serta praktik langsung pengemasan, dan pelabelan produk. Hasil: Workshop diikuti oleh 20 UMKM dengan tingkat kehadiran 100%. Hasil evaluasi menunjukkan 80% peserta merasa sangat puas terhadap pelaksanaan kegiatan, 55% peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan yang sangat baik, dan 95% peserta menyatakan ingin menerapkan pengemasan dan pelabelan yang lebih baik pada produknya. Kesimpulan: Kegiatan workshop efektif meningkatkan kapasitas UMKM dalam pengemasan, pelabelan, dan pemahaman regulasi pangan, serta berpotensi memperkuat daya saing produk pangan lokal di Kabupaten Sanggau.