Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Pencak Silat dalam Membentuk Karakter Disiplin Siswa Thai Assa-Adah Narathiwat Adi Nur Ali; Muhammad Bahrul Ulum Mubarok
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 8 No 2 (2025): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v8i2.3317

Abstract

This study examines the role of pencak silat in shaping the character of discipline of students at Madrasah Assa-Adah, Narathiwat, Thailand, through a humanistic education perspective. Using a qualitative phenomenological method, this study involved participant observation, in-depth interviews, and document analysis. The informants in this study were 5 active students, 2 pencak silat trainers, and 3 assistant teachers. Observations were conducted for four weeks in stages. The results of the study indicate that pencak silat fosters discipline not only through structured physical training, but also through consistent reinforcement of moral values ​​such as responsibility, respect, and self-control. This training encourages students' punctuality, perseverance, and commitment, which translates into improved academic and social behavior. In addition, pencak silat fosters emotional intelligence and cooperation, providing space for self-actualization and character building in line with humanistic theory. These results confirm that pencak silat is not only a physical activity but a holistic educational tool that effectively internalizes discipline and moral development in the school environment. This study contributes to strengthening the theory of character building through non-formal education and local culture approaches. These findings indicate that pencak silat as a cultural heritage not only functions as physical exercise, but also as a natural medium to internalize values. The results of this study can be a reference for educational policies and programs in Islamic boarding schools and schools, especially in strengthening students' character education through physical-cultural activities.
Akuntabilitas Pengasuhan Anak Pascaperceraian dalam Kerangka Mubadalah dan Maqashid Syariah Muhammad Bahrul Ulum Mubarok; Khotibul Umam
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 3 Nom
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v3i3.607

Abstract

Pemenuhan hak anak pascaperceraian memerlukan keberlanjutan tanggung jawab yang tidak bergantung sepenuhnya pada keharmonisan hubungan mantan pasangan. Artikel ini merumuskan kerangka akuntabilitas pengasuhan melalui pengembangan pembacaan mubadalah dan maqashid syariah yang menempatkan anak sebagai pemegang hak. Penelitian menggunakan kajian kepustakaan dengan pendekatan normatif dan analisis konseptual. Bahan kajian mencakup artikel Al Mustaqim dan Alfirahmah tentang lima keluarga di Desa Kerandon, peraturan mengenai pengasuhan dan pembiayaan anak, instrumen hak anak, serta penelitian tentang pengasuhan bersama, partisipasi, dan pengendalian koersif. Narasi keluarga dalam artikel sumber dianalisis sebagai temuan yang telah diterbitkan. Analisis menunjukkan bahwa ketidakpastian nafkah, keterputusan keterlibatan orang tua, dan tidak tersedianya suara anak merupakan persoalan yang berbeda sehingga memerlukan respons yang berbeda pula. Kesalingan diarahkan pada pembagian tanggung jawab yang proporsional tanpa menghapus kewajiban hukum yang melekat pada orang tua. Maqashid digunakan sebagai orientasi evaluasi kebutuhan, sedangkan partisipasi anak dan keselamatan menjadi syarat dalam menentukan bentuk keterlibatan orang tua. Artikel menawarkan model yang menghubungkan pemetaan kebutuhan, penetapan tanggung jawab, pencatatan pelaksanaan, peninjauan, dan tindakan korektif. Kontribusinya terletak pada perumusan hubungan antara etika kesalingan dan pertanggungjawaban yang dapat ditelusuri, termasuk ketika kerja sama orang tua gagal. Model ini merupakan usulan konseptual yang memerlukan pengujian empiris sebelum digunakan sebagai instrumen penilaian baku.