Fenomena anak yang tidak memiliki ayah (fatherless) semakin banyak dibicarakan dalam studi tentang psikologi keluarga dan konseling. Tidak adanya figur ayah, baik karena cerai, meninggal, atau faktor lainnya, ternyata memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan psikologis dan perilaku sosial anak, terutama perempuan ketika memasuki masa remaja akhir. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kondisi tidak memiliki ayah (fatherless) memengaruhi cara perempuan memilih pasangan hidup, berdasarkan tinjauan dari berbagai penelitian yang sudah ada. Melalui kajian literatur yang kami lakukan, menunjukkan bahwa perempuan yang tidak memiliki ayah mengalami proses yang kompleks dalam memahami hubungan romantis dan pernikahan. Beberapa dampak yang muncul antara lain kurangnya rasa percaya diri, kesulitan mempercayai pria, cenderung mencari pasangan yang bisa mengisi kekosongan emosional, serta lebih memilih pasangan yang memiliki latar belakang sosial-ekonomi, nilai moral, dan agama yang sama. Namun, penelitian juga menunjukkan adanya kemampuan sosial dan ketangguhan, yaitu sebagian perempuan tetap memiliki harapan positif untuk membangun pernikahan yang harmonis. Dengan demikian, kondisi tidak memiliki sosok ayah (fatherless) bukanlah sesuatu yang pasti menentukan, melainkan dipengaruhi oleh hubungan sosial, pengalaman masa lalu, serta sistem dukungan yang dimiliki seseorang. Temuan ini memberi kontribusi penting dalam bidang konseling keluarga dan pernikahan, terutama dalam merancang bantuan yang bisa meningkatkan kepercayaan diri, mengelola luka emosional, serta membangun kemampuan dalam memilih pasangan secara sehat.