Sutami Sutami
Program Studi Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan, Sekolah Vokasi, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kompos Pelet: Solusi Praktis Berkelanjutan, dan Berbasis Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga MMA Retno Rosariastuti; Sutami Sutami; Widyatmani Sih Dewi; Sudadi Sudadi
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 10, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v10i1.110663

Abstract

Sampah kompos berpeluang besar untuk dimanfaatkan secara optimal guna memberikan manfaat ekonomi dan ekologis. Pengabdian ini dilakukan pada bulan Juli hingga November 2025 melalui beberapa tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos berbasis pelet yang ramah lingkungan. Kompos berbasis pelet adalah pupuk organik padat yang dibentuk menjadi pelet. Masa simpan kompos berbasis pelet lebih lama dibandingkan dengan kompos remah. Kompos berbasis pelet lebih kering, memiliki bentuk lebih menarik, lebih kaya nutrisi, dan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hasil demonstrasi, perbandingan komposisi bahan dalam pembuatan pelet merupakan aspek kunci yang menentukan kualitas, efisiensi, serta performa akhir dari pelet tersebut. Perbandingan komposisi terbaik bahan pelet adalah 10 bahan kompos: 1 tepung tapioka: 1 arang batok dan 2 air. Penjualan pelet arang batok memiliki keuntungan lebih tinggi dibandingkan bekatul dan dolomit yaitu sebesar Rp. 2.478 per pcs. Pendekatan ini menawarkan solusi praktis berkelanjutan, memberikan manfaat ekologis dengan mengurangi jumlah sampah organik dan berbasis ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah. Pengabdian ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami cara membuat kompos pelet, sehingga bisa memenuhi kebutuhan pertanian secara mandiri dan tidak bergantung pada bahan baku luar. Pengabdian ini menunjukkan bahwa penyelesaian isu lingkungan bisa berjalan seiring dengan meningkatnya perekonomian daerah. Itulah inti dari Sustainable Development Goals (SDGs) 12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.