Nursyifa Azzahro
Institut Prima Bangsa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diphtong Monophtongization in Japanese Loanwoards: An Acoustic and Sociolinguistic Analysis of Language Contact Effects Nursyifa Azzahro; Naelul Rohmah; Mauldina Permata Dewi; Alvyna Febrianti
JOLLT Journal of Languages and Language Teaching Vol. 14 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jollt.v14i2.18880

Abstract

This study explores the monophthongization of diphthongs in Japanese loanwords, with a particular focus on the role of foreign language contact. Previous studies have failed to integrate acoustic evidence with sociolinguistic perception in explaining phonological adaptation in Japanese loanwards. This study fills this gap by integrating acoustic phonetic analysis and sociolinguistic perspectives. The dataset consists of 50 Japanese loanwords containing diphthongs (/ai/, /ei/, /oi/, /au/, /ou/), produced by 50 native speakers from two age groups (18–35 and 36–70). A total of 2,500 audio tokens were collected and analyzed using Praat to observe vowel duration and formant transitions. In addition, a perception survey was conducted to assess speakers' attitudes toward monophthongization. The findings indicate a systematic shift from dynamic vowel sequences toward stable long vowel nuclei, suggesting that Japanese speakers are not merely simplifying articulation but restructuring diphthongal sequences into phonologically unified segments. These findings challenge the traditional assumption that Japanese preserves vowel sequences without significant restructuring, suggesting instead that loanward phonology actively reshapes vowel organization under contact pressure. Sociolinguistic results show diverse perceptions: some consider this process natural, while others see it as an impact of media and globalization. The generational differences observed in this stud suggest that monophthongization is not a completed change but a stratified variation, where competing phonetic norms coexist across age groups. This study contributes to the understanding of sound changes in Japanese, supports language education, and provides a curated phonetic dataset for future linguistic and speech technology research.
Peningkatan Kualitas Terjemahan Mesin Papago melalui Post-editing pada Teks Cerita Anak Jepang ke dalam Bahasa Indonesia: Perspektif Multimodal Citra Dewi; Nursyifa Azzahro
Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2025): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jh.v9i2.756

Abstract

Pemanfaatan terjemahan mesin saraf (NMT) semakin lazim dalam domain akuisisi bahasa dan terjemahan, terutama dalam konteks teks naratif anak-anak. Namun demikian, terjemahan mesin terus menghadapi tantangan yang signifikan ketika menangani teks naratif multimodal yang bergantung pada interaksi antara komponen linguistik, visual, dan budaya, terutama dalam pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Dalam hal ini, output yang dihasilkan oleh sistem terjemahan mesin Papago sering menunjukkan ketidakakuratan semantik dan tidak diterima secara memadai dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa target. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kualitas terjemahan mesin Papago dari teks naratif anak-anak Jepang “Omusubi Kororin” dan untuk menyelidiki pengaruh post-editing berbasis multimodal pada peningkatan akurasi dan keterbacaan terjemahan bahasa Indonesia. Investigasi ini menggunakan metodologi kualitatif yang dicirikan oleh desain deskriptif-analitis, yang melibatkan analisis komparatif teks sumber, hasil terjemahan mesin, dan hasil post-editing, semua sambil mempertimbangkan interaksi antara elemen verbal dan visual dalam video naratif. Temuan menunjukkan bahwa terjemahan mesin Papago memiliki kekurangan yang cukup besar dalam menyampaikan makna berbasis gerakan, ekspresi onomatopoeik, dan kiasan budaya, yang berdampak buruk pada keterbacaan dan pemahaman terjemahan Indonesia. Keaslian penelitian ini diwujudkan dalam penggabungan pendekatan post-editing terjemahan mesin (MTPE). dengan analisis multimodal dalam konteks penerjemahan sastra anak-anak Jepang-Indonesia. Secara teoritis, penelitian ini mendukung gagasan post-editing sebagai proses interpretatif multimodal, sedangkan, dari perspektif praktis, penelitian ini menawarkan wawasan untuk kemajuan pedagogi penerjemahan Indonesia yang didasarkan pada post-editing terjemahan mesin (MTPE)