Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura
Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala, Salatiga

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Teologis Kedokteran Kejadian Manusia dalam Perspektif Mazmur 139:13 Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura; Yonatan Alex Arifianto; Reni Triposa
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.552

Abstract

The debate regarding the origin of humankind between the theological perspective of the Bible and Darwin's theory of evolution remains a compelling issue to this day, particularly with the advancement of modern medicine and genetics, which demonstrate the biological proximity between humans and primates. However, theological studies linking the biblical perspective, particularly Psalm 139:13, with the findings of modern medicine and genetics are still very limited, requiring in-depth study to bridge the two perspectives. This study aims to analyse the process of human creation based on the biblical hermeneutics of Psalm 139:13 from the perspective of modern medical theology and genetic science. The research method used is biblical hermeneutics with a modern medical theological approach and genetic analysis to understand the meaning of human creation holistically. The results show that the process of human creation in Psalm 139:13 is in line with modern medical science, particularly in embryogenesis, which describes God ‘weaving’ humans through highly complex and orderly genetic mechanisms. Analysis of the words qanah, cakak, and kilyah reveals the relationship between the creation of the human body, soul, and spirit, which reflects God's work holistically. These findings confirm that humans were created uniquely in the image and likeness of God, not as the result of evolution from other creatures, and enrich the theological understanding of medicine regarding the origin and nature of humans. AbstrakPerdebatan mengenai asal-usul manusia antara pandangan teologis Alkitab dan teori evolusi Darwin masih menjadi isu menarik hingga saat ini, terutama dengan adanya perkembangan ilmu kedokteran modern dan genetika yang menunjukkan kedekatan biologis antara manusia dan primata. Namun, kajian teologis yang menghubungkan perspektif Alkitab, khususnya Mazmur 139:13, dengan temuan ilmu kedokteran modern dan genetika masih sangat terbatas, sehingga diperlukan telaah mendalam untuk menjembatani kedua perspektif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kejadian manusia berdasarkan hermeneutik biblika Mazmur 139:13 dalam perspektif teologis kedokteran modern dan ilmu genetika. Metode penelitian yang digunakan adalah studi hermeneutik biblika dengan pendekatan teologis kedokteran modern dan analisis genetika untuk memahami makna penciptaan manusia secara holistik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kejadian manusia dalam Mazmur 139:13 sejalan dengan ilmu kedokteran modern, khususnya dalam embriogenesis yang menggambarkan Allah “menenun” manusia melalui mekanisme genetik yang sangat kompleks dan teratur. Analisis terhadap kata qanah, cakak, dan kilyah memperlihatkan hubungan antara penciptaan jasmani, jiwa, dan roh manusia yang mencerminkan karya Allah secara holistik. Temuan ini menegaskan bahwa manusia diciptakan unik menurut gambar dan rupa Allah, bukan hasil evolusi dari makhluk lain, serta memperkaya pemahaman teologis kedokteran tentang asal-usul dan hakikat manusia.
Pancasila dan Etis Teologis sebagai Basis Kepemimpinan Kristen bagi Reintegrasi Iman dan Identitas Kebangsaan Suryadi Nicolaas Napoleon Tatura; Yonatan Alex Arifianto
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.213

Abstract

Pluralistic and dynamic national life is related to the relationship between Christian faith and Pancasila values. This has an impact on leadership, which experiences complex ethical and spiritual tensions. Moral shifts and the weakening of public leaders' integrity indicate a dissonance between religious values and national spirit. Meanwhile, Christian theology is often perceived as purely spiritual, without active involvement in social and national spheres. The phenomenon of increasing identity fragmentation and moral crisis among Christian leaders emphasises the importance of reconstructing a theological basis that can integrate faith and nationalism into a single, comprehensive ethical horizon. This study aims to reinterpret Pancasila as a space for theological dialogue that shapes Christian leadership based on theological ethics for the reintegration of faith and national identity. Using qualitative methods with a literature study approach, it was concluded that Pancasila has the potential as a theological and ethical space that enables Christian leadership rooted in the values of justice and humanity. Theological ethics has proven to be a moral foundation that guides Christian leaders to integrate faith with social and national responsibilities. Thus, Pancasila-based Christian leadership serves as a means of reintegrating faith and national identity in the praxis of Indonesian public life.AbstrakKehidupan berbangsa yang plural dan dinamis, terkait relasi antara iman Kristen dan nilai-nilai Pancasila. Berdampak pada kepemimpinan yang mengalami ketegangan etis dan spiritual yang kompleks. Pergeseran moral dan melemahnya integritas pemimpin publik menunjukkan terjadinya disonansi antara nilai-nilai iman dan semangat kebangsaan. Sementara itu, teologi Kristen kerap dipersepsikan hanya bersifat spiritual, tanpa keterlibatan aktif dalam ruang sosial dan nasional. Fenomena meningkatnya fragmentasi identitas dan krisis moral di kalangan pemimpin Kristen menegaskan pentingnya rekonstruksi basis teologis yang mampu mengintegrasikan iman dan nasionalisme dalam satu horizon etis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kembali Pancasila sebagai ruang dialog teologis yang membentuk  kepemimpinan Kristen berbasis etika teologis bagi reintegrasi iman dan identitas kebangsaan. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature maka disimpulkan bahwa bahwa Pancasila memiliki potensi sebagai ruang teologis dan etis yang memampukan kepemimpinan Kristen berakar pada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Etika teologis terbukti menjadi fondasi moral yang menuntun pemimpin Kristen untuk mengintegrasikan iman dengan tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen berbasis Pancasila berperan sebagai sarana reintegrasi iman dan identitas kebangsaan dalam praksis kehidupan publik Indonesia.