Wahiduddin Wahiduddin
Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR RISIKO KEJADIAN KOMPLIKASI DM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA MAKASSAR Putri Apriyanti Ilman; Wahiduddin Wahiduddin; Andi Selvi Yusnita Sari
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 4 No. 2: JUNE 2023
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v4i2.26347

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan jumlah kasus yang terus meningkat. Tingginya angka kejadian DM kemungkinan terjadianya komplikasi juga akan besar, kondisi tersebut dapat menyebabkan berkurangnya usia harapan hidup penderita, kelumpuhan, dan meningkatkan beban ekonomi. Tujuan: untuk mengetahui faktor risiko kejadian komplikasi diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kota Makassar tahun 2022. Metode: Analitik observasional dengan desain studi case control. Pupulasi dalam penelitian ini seluruh pasien diabetes dengan komplikasi dan tanpa komplikasi yang terdaftar di RSUD Kota Makassar. Sampel berjumlah 140 responden dengan 70 responden untuk kelompok kasus dan 70 responden untuk kelompok kontrol. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan aplikasi Stata. Hasil: Jumlah responden yang berhasil diwawancarai pada penelitian ini yaitu 140 dari 152 responden. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan beberapa metode yaitu via telepon (75%), wawancara langsung di RS (24%), dan kunjungan rumah (1%).  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lama menderita DM berisiko 7,1 kali mengalami komplikasi DM (OR=7,1; 95% CI 3,0-17,5); IMT kategori obesitas berisiko 3,9 kali mengalami komplikasi DM (OR=3,9; 95% CI 1,7-9,1); keteraturan kontrol gula darah berisiko 2,9 kali mengalami komplikasi DM (OR=2,9; 95% CI 1,3-6,5) dan kepatuhan pengobatan berisiko 2,3 kali mengalami komplikasi DM (OR=2,3; 95% CI 1,0-4,8). Kesimpulan: Lama Menderita, IMT Kategori obesitas, keteraturan kontrol gula darah, dan kepatuhan pengobatan merupakan faktor risiko kejadian komplikasi diabetes melitus. Bagi pasien diabetes maupun komplikasi diabetes diharapkan dapat menerapkan perilaku hidup sehat, jaga berat badan, teratur mengontrol gula darah, dan patuh terhadap pengobatan.
HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA (12-59 BULAN) DI PUSKESMAS TOMBANGKALUA’ Anastasya Elma Panggo; Wahiduddin Wahiduddin; Ryza Jazid Baharuddin Nur
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 5 No. 3: OCTOBER 2024
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v5i3.35706

Abstract

Latar belakang: Stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang badan atau tinggi badan menurut usia kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan yang dapat terjadi karena asupan nutrisi yang tidak adekuat akibat infeksi/kronis yang terjadi dalam 1000 HPK. Prevalensi stunting secara global 22,3% pada tahun 2022. Berdasarkan SSGI tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%, di Sulawesi Selatan sebesar 27,2%, dan Toraja Utara sebesar 34,1%. Pola asuh orang tua sangat penting dalam mencegah dan menanggulangi masalah stunting yang berkaitan dengan asupan gizi dan status infeksi pada anak. Tujuan: Mengetahui hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tombangkalua’. Metode: Desain penelitian menggunakan cross sectional Study. Adapun besar sampel sebanyak 121 responden dengan penarikan sampel menggunakan proportional random sampling. Data di analisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan bahwa pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan (p-value=0,000), rangsangan psikososial (p-value=0,007), pemanfaatan pelayanan kesehatan (p-value=0,000), kebersihan diri (p-value=0,000), dan sanitasi penyediaan air bersih (p-value=0,000) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan. Kesimpulan: Variabel pemberian makan, rangsangan psikososial, pemanfaatan layanan kesehatan, kebersihan diri, dan ketersediaan air bersih berhubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Tombangkalua’ Tahun 2023. Disarankan kepada orang tua yang memiliki anak berusia 12-59 bulan agar lebih memperhatikan pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan terutama dalam hal pemenuhan gizi makanan yang diberikan kepada anak dan lebih memperhatikan sumber air bersih yang aman dan terlindungi.
EVALUASI PROGRAM TRIPLE ELIMINATION DI KOTA MAKASSAR TAHUN 2023 Zakya Nur Halizhah; Arsunan Arsin; Wahiduddin Wahiduddin
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 2: JUNE 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i2.44437

Abstract

Latar Belakang: Komunitas global telah berkomitmen mengeliminasi Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA) HIV, sifilis, virus hepatitis B sebagai prioritas kesehatan masyarakat. Risiko penularan ibu ke anak untuk HIV yaitu 20-45%, sifilis yaitu 69-80% dan hepatitis B >90%.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program triple elimination di Kota Makassar. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi. Penelitian ini dilakukan di Kota Makassar pada Desember 2024-Februari 2025. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi kontigensi melalui software SPSS dan analisis overlay melalui software QGIS. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi K1 (kunjungan antenatal 1) terhadap kasus HIV pada anak (p=0,417), tes HBsAg pada anak (p= 0,542), dan kasus sifilis kongenital (p=0,417); tidak terdapat hubungan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dengan kasus HIV pada anak (p=0,384), tes HBsAg pada anak (p=0,211), dan kasus sifilis kongenital (p=0,519); tidak terdapat korelasi pada persentase ibu hamil HIV yang mengikuti terapi antiretroviral terhadap kasus HIV pada anak (p=0,168); terdapat korelasi pada persentase ibu hamil sifilis yang mengikuti pengobatan dengan kasus sifilis kongenital (p=0,016;r=0,607); serta tidak terdapat korelasi pada cakupan vaksin hepatitis B dosis 3 terhadap prevalensi tes HBsAg pada anak (p=0,953). Kesimpulan: Implementasi PPIA di Kota Makassar belum dilaksanakan secara merata. Oleh karena itu, diharapkan perlu meningkatkan dan memberlakukan program triple elimination secara merata di seluruh wilayah agar memudahkan keluarga mengakses pelayanan kesehatan.