Latar belakang: Stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang badan atau tinggi badan menurut usia kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan yang dapat terjadi karena asupan nutrisi yang tidak adekuat akibat infeksi/kronis yang terjadi dalam 1000 HPK. Prevalensi stunting secara global 22,3% pada tahun 2022. Berdasarkan SSGI tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6%, di Sulawesi Selatan sebesar 27,2%, dan Toraja Utara sebesar 34,1%. Pola asuh orang tua sangat penting dalam mencegah dan menanggulangi masalah stunting yang berkaitan dengan asupan gizi dan status infeksi pada anak. Tujuan: Mengetahui hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tombangkalua’. Metode: Desain penelitian menggunakan cross sectional Study. Adapun besar sampel sebanyak 121 responden dengan penarikan sampel menggunakan proportional random sampling. Data di analisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Dari penelitian ini didapatkan bahwa pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan (p-value=0,000), rangsangan psikososial (p-value=0,007), pemanfaatan pelayanan kesehatan (p-value=0,000), kebersihan diri (p-value=0,000), dan sanitasi penyediaan air bersih (p-value=0,000) berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 12-59 bulan. Kesimpulan: Variabel pemberian makan, rangsangan psikososial, pemanfaatan layanan kesehatan, kebersihan diri, dan ketersediaan air bersih berhubungan dengan kejadian stunting di Puskesmas Tombangkalua’ Tahun 2023. Disarankan kepada orang tua yang memiliki anak berusia 12-59 bulan agar lebih memperhatikan pola asuh berdasarkan praktik pemberian makan terutama dalam hal pemenuhan gizi makanan yang diberikan kepada anak dan lebih memperhatikan sumber air bersih yang aman dan terlindungi.