Latar Belakang: Kata-kata dan gambar di layar komputer dibuat dengan kombinasi titik cahaya kecil yang disebut piksel, yaitu paling terang di tengah dan berkurang intensitasnya ke tepi, sehingga sulit untuk mata manusia untuk mempertahankan fokus yang berkontribusi terhadap Computer Vision Syndrome (CVS). Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian CVS pada pekerja pengguna komputer di PT. PLN (Persero) UP3 Makassar Selatan. Metode: Penelitian observasional analitik dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Penentuan sampel menggunakan proposionate stratified sampling yang berjumlah 111 pekerja. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu istirahat mata (p=0.011), penggunaan kacamata (p=0.026), intensitas pencahayaan (p=0.008), posisi monitor (p=0.018), dan penggunan antiglare screen (p=0.001) dengan CVS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan adalah prediktor yang paling kuat secara signifikan dalam mengembangkan CVS (OR= 3.057, 95% CI=(0.136-0.828). Sedangkan tidak ada hubungan yang signifikan antara usia (p=0.190), masa kerja (p=0.770), durasi kerja (p=0.063), dan polaritas monitor (p=0.190) dengan CVS di PT. PLN (Persero) UP3 Makassar Selatan. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara waktu istirahat mata, penggunaan kacamata, intensitas pencahayaan, posisi monitor, dan penggunaan antiglare screen dengan CVS pada pekerja pengguna komputer di PT. PLN (Persero) UP3 Makassar Selatan. Penelitian ini menyarankan mengadakan pengaturan waktu istirahat mata, melakukan pemeriksaan mata secara berkala, menggunakan kacamata saat bekerja, memperbaiki intensitas pencahayaan, mengatur posisi monitor, dan memasang antiglare screen untuk menghindari terjadinya CVS.