Muh. Fakhran Farezi Akhyar
Departemen Epidemiologi, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FAKTOR RISIKO KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS BATUA Muh. Fakhran Farezi Akhyar; A. Arsunan Arsin; Ryza Jazid Baharuddin Nur
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 2: JUNE 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i2.43998

Abstract

Latar Belakang: Angka pengobatan lengkap tuberkulosis yang rendah menunjukkan adanya tantangan dalam penanganan kasus TB. Ketidakpatuhan minum OAT dalam kasus tuberkulosis dapat menjadi salah satu pemicu terhadap kegagalan pengobatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar faktor risiko ketidakpatuhan minum OAT pada penderita TB paru di Puskesmas Batua. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain case control. Populasi berasal dari seluruh pasien TB di Puskesmas Batua berjumlah 288 dengan sampel terdiri dari kasus dan kontrol sebanyak 140 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan pengambilan data melalui wawancara kepada pasien yang berlangsung dari Desember 2024 hingga Februari 2025. Analisis data yang dilakukan berupa univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa status pekerjaan (OR=2,13; 95% CI: 1,02–4,46), tingkat pengetahuan (OR=4,33; 95% CI: 1,99–9,57), dukungan keluarga (OR=3,18; 95% CI: 1,45–7,09), peran PMO (OR=2,57; 95% CI: 1,22–5,41) dan efek samping OAT (OR=3,76; 95% CI: 1,50–10,00) merupakan faktor risiko terhadap ketidakpatuhan minum OAT pada penderita TB paru di Puskesmas Batua. Kesimpulan: Pada penelitian ini status pekerjaan, tingkat pengetahuan, dukungan keluarga, peran PMO, dan efek samping OAT merupakan faktor risiko yang bermakna secara statistik terhadap ketidakpatuhan minum OAT. Diharapkan kepada pihak Puskesmas Batua untuk meningkatkan edukasi yang berfokus pada pemahaman pentingnya pengobatan hingga tuntas meski telah merasa sembuh serta meningkatkan peran PMO melalui pelatihan untuk memantau dan mendampingi pasien TB lebih intensif.