Achmad Habibul Alim Mappiasse
Universitas Islam Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PLAGIARISME DAN GANTI RUGI MATERIIL PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Achmad Habibul Alim Mappiasse; Asmuni Asmuni
Al-Adl : Jurnal Hukum Vol 17, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/al-adl.v17i1.14934

Abstract

Dalam dunia pendidikan, kecenderungan malas berpikir akan memunculkan tindakan plagiarisme. Plagiarisme dapat dikategorikan sebagai tindak yang melanggar undang-undang atau peraturan perundang-undangan yang melindungi hak cipta seseorang. Meskipun undang-undang yang mengatur plagiarisme sudah ada, namun tindakan seperti itu tersebar luas dan sering terjadi di kalangan pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa aturan atau undang-undang mengenai plagiarisme belum mempunyai kekuatan hukum yang kokoh. Di sisi lain, masyarakat Indonesia membutuhkan peraturan yang tepat berdasarkan ajaran agama untuk mewujudkan ketertiban hukum. Untuk mencapai kemaslahatan yang diridhai Allah, maka kehidupan masyarakat harus diatur melalui asas-asas hukum yang berdasarkan atau mengikuti petunjuk spiritual. Perbuatan buruk yang mengakar ini bertentangan dengan norma hukum Islam dan tujuan Maqashid Syari’ah, sehingga perlu ditekankan kembali penjelasan mengenai kompensasi hukum Islam bagi pelaku plagiarisme. Secara normatif, penelitian ini mengkaji bagaimana kompensasi plagiarisme dilihat dari sistem hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan kualitatif, sehingga aturan-aturan hukum yang ada diperkuat melalui data-data pendukung. Data ini diperoleh melalui dokumentasi data berupa literatur hukum Islam berupa Al-Quran dan hadis, serta buku-buku atau kitab-kitab yang berkaitan dengan hukum Islam dan plagiarisme. Dalam hukum Islam, plagiarisme tidak termasuk dalam kategori pidana hudud atau qishash, sehingga hukuman yang pantas adalah ta’zir berupa teguran tegas, denda, penjara, atau sanksi ta’zir lainnya yang ditetapkan oleh yang berwenang.
Nusantara dan Mekah Abad ke 19 Achmad Habibul Alim Mappiasse; Dzulkifli Hadi Imawan
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 17, No 1 (2023): MULTIDIMENTIONAL DA'WAH
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v17i1.2759

Abstract

Tulisan ini membahas tentang latar belakang sejarah dalam konteks dua wilayah di abad ke 19 yang secara geografis dan politik berbeda, tetapi dari segi agama sangat erat kaitannya. Yang pertama adalah Kepulauan Indonesia di mana umat Islam merupakan jumlah terbesar jemaah haji internasional. Yang kedua adalah Hijaz tempat umat Islam Indonesia menunaikan ibadah haji, belajar dan dalam beberapa kasus menetap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik, yaitu model penelitian yang berusaha mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasikan kondisi yang ada sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran tentang Nusantara dan Mekkah abad ke 19. Data menunjukkan bahwa meskipun pemerintah kolonial berusaha menakut-nakuti, membatasi, dan mencegah orang pergi haji ke Mekkah, jumlah jemaah haji justru meningkat drastis pada abad ke 19. Banyak jamaah haji memperpanjang masa tinggal mereka di Mekah atau menetap di sana secara permanen dengan tujuan mempelajari Islam.