Arpandi Arpandi
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Amuntai

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE EFFECTIVENESS OF ATHLETE DEVELOPMENT AT THE DEPARTMENT OF YOUTH, SPORTS, AND TOURISM (DISPORAPAR) OF BALANGAN REGENCY Muhammad Abdillah Nazmi Ramadhan; Arpandi Arpandi; Moh. Fajar Noorrahman
Journal of Development Administrations Thinking Understand: Public and Business Administration (DATU) Vol. 2 No. 2 (2026): Journal of Development Administrations Thinking Understand: Public and Business
Publisher : PPPM STIA Amuntai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36658/datu.v2.i2.1700

Abstract

This study was driven by the gap between the strategic role of the Balangan Regency Sports and Tourism Office (Disporapar) as an incubator for high-achieving athletes and the reality on the ground, which remains trapped by seasonal development patterns and limited infrastructure. With the aim of deeply analyzing development effectiveness, this study adopted Duncan's theoretical framework (as cited in Mokoginta et al., 2021), which highlights vital dimensions such as goal achievement, integration, and adaptation. Using a descriptive qualitative approach that processed data from interviews, observations, and documentation, the analysis confirmed that the current performance of athlete development is ineffective. This failure is clearly identified in the goal achievement dimension, which lacks transparent medal target parameters, and in the integration dimension, which is hampered by convoluted bureaucratic procedures and a merely ceremonial socialization pattern. Furthermore, fundamental weaknesses were found in the adaptation aspect, where training continuity is often interrupted outside the competition season and the minimal adoption of sports science technology in training facilities. In conclusion, the organization's inability to orchestrate resources in an integrated manner is a major obstacle to long-term achievement. Therefore, a radical transformation in facility management and consistent standardization of training programs are absolute solutions that must be implemented immediately to improve the competence and competitiveness of regional athletes.
EFEKTIVITAS PENERAPAN IDENTITAS KEPENDUDUKAN DIGITAL (IKD) PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA Putri Nafisa; Arpandi Arpandi; Ahmad Baihaqi
Al Iidara Balad Vol. 7 No. 2 (2026): Al Iidara Balad
Publisher : PPPM STIA Amuntai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36658/aliidarabalad.7.2.1720

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena, yaitu: Pelaksanaan kegiatan aktivasi IKD belum merata, Terdapat gangguan teknis dan koneksi jaringan internet yang tidak stabil serta proses aktivasi IKD belum bisa dilakukan secara mandiri, Terbatasnya fungsi IKD dalam memuat layanan dan informasi kependudukan masyarakat, serta Sosialiasi penerapan IKD belum merata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan IKD pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Hulu Sungai Utara serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan penentuan informan melalui purposive sampling sebanyak 15 orang. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penerapan IKD masih belum sepenuhnya efektif diukur berdasarkan indikator efektivitas menurut teori Campbell J.P, yaitu: pertama, sub variabel keberhasilan program dengan indikator pengetahuan program cukup efektif dan penerapan program kurang efektif; kedua, sub variabel keberhasilan sasaran dengan indikator sasaran program kurang efektif dan mekanisme mempertahankan sasaran cukup efektif; ketiga, sub variabel kepuasan terhadap program dengan indikator kepuasan pelaksanaan cukup efektif dan kualitas aplikasi kurang efektif; keempat, tingkat input dan tingkat output dengan indikator tingkat input cukup efektif dan tingkat output kurang efektif; kelima, sub variabel pencapaian tujuan menyeluruh dengan indikator transparansi dan penilaian program dinilai kurang efektif. Faktor pendukung meliputi kerja sama lintas sektor, kecukupan sumber daya, serta inovasi pelayanan, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan teknologi, pola sosialisasi yang insidental, keterbatasan integrasi layanan, serta belum adanya pelatihan khusus bagi pegawai.