Subak merupakan suatu organisasi lokal dari Bali yang bertugas dalam menangani segala urusan pertanian dengan tata kerja yang berlandasakan Tri Hita Karana. Salah satu subak yang ada di Bali adalah subak Lanyahan Babakan yang berlokasi di Desa Tamblang. Subak tersebut diketahui memiliki peran lain diluar urusan pertanian yaitu melaksanakan dan melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Kearifan lokal tersebut berbentuk dalam satu tradisi yang dinamakan Ngeloang Capah. Tradisi Ngeloang Capah ini dilaksanakan pada saat dilakukannya Upacara Ngusaba Desa oleh Desa Adat Tamblang yang rutin terlaksana setiap satu tahun sekali pada saat purnama sasih kedasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang yang menjadi alasan subak Lanyahan Babakan melestarikan tradisi Ngeloang Capah yang mana hal ini bukan bagian dari sistem pertanian. Penelitian ini menggunakan konsep sistem religi sebagai acuan dalam menjawab pertanyaan penelitian. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan objek tradisi Ngeloang Capah yang ada di Desa Tamblang. Adapun dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi dokumen. Sedangkan jenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Melalui penelitian ini dapat diketahui apa yang menjadi alasan dari subak Lanyahan Babakan di Desa Tamblang melestarikan tradisi Ngeloang Capah yang tidak termasuk dalam bagian keperluan dari pertanian di Desa Tamblang, Dimana hal tersebut dikarenakan adanya suatu sistem religi yang terkadung dalam tradisi Ngeloang Capah berupa emosi keagamaan, umat beragama, sistem keyakinan, dan sistem ritus dan upacara. Tradisi Ngeloang Capah selain merupakan warisan dari leluhur mereka yang tergolong sebagai ritual adat, juga tergolong sebagai ritual keagamaan yang sesuai dengan ajaran agama Hindu. Oleh karena itulah tradisi ini dilestarikan oleh subak Lanyahan Babakan di Desa Tamblang