Muhammad Fahruddin
UIN Walisongo Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsumerisme Religius-Simbolis dalam Shampoo Khusus Hijab: Studi Kasus Mahasiswi FUHum UIN Walisongo Perspektif Baudrillard Alif Mustofa; Muhammad Fahruddin; Luthfi Rahman
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3398

Abstract

Tren konsumsi produk berlabel religius menunjukkan bahwa spiritualitas masa kini tidak lagi hanya hadir di tempat ibadah, tetapi juga meresap ke dalam ruang ekonomi dan budaya populer. Di tengah arus kapitalisme yang cepat dan gaya hidup modern, banyak produk kini menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kebutuhan sehari-hari salah satunya adalah sampo khusus hijab. Produk-produk ini tidak hanya menawarkan perawatan rambut; mereka juga menampilkan citra kesalehan, kemurnian, dan keanggunan perempuan Muslim. Pada titik ini, makna religius mulai berpadu dengan strategi pemasaran, menciptakan realitas baru yang membuat batas antara kebutuhan, keinginan, dan identitas menjadi sesuatu yang tidak jelas nilai utamanya. Berdasarkan gagasan Jean Baudrillard tentang simulakra dan masyarakat konsumen, tinjauan kritis terhadap iklan, kemasan, dan perilaku konsumen mengungkap makna tersembunyi di balik produk-produk ini. Melalui observasi, wawancara, dan refleksi dari empat mahasiswi UIN Walisongo Semarang yang menggunakan sampo hijab, terlihat bahwa konsumsi tidak lagi sekadar soal fungsi melainkan menjadi pernyataan simbolik tentang siapa diri mereka dan bagaimana mereka ingin dilihat. Citra perempuan berhijab dibentuk melalui narasi media yang memadukan kesalehan, kecantikan, dan modernitas dalam satu paket konsumsi yang menarik. Dari konstruksi ini, sampo hijab tampak sebagai sebuah simulacra yaitu dimana sebuah tanda yang tampak religius tetapi kehilangan rujukan spiritual yang sejati. Konstruksi ini menghadirkan ilusi kesalehan yang dapat dibeli, direproduksi, dan dipertontonkan. Dalam konteks ini, kapitalisme modern tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual makna keagamaan yang telah diubah menjadi gaya hidup. mereka para kapitalisme memanfaatkan peluang dengan melihat bahwa masyarakat memiliki jiwa religius yang tinggi terutama pada para masyarakat di negara Indonesia.