Penerjemahan cerita rakyat anak memerlukan sensitivitas terhadap bahasa, gaya penceritaan, dan cara berpikir anak, sehingga penerjemah tidak hanya mengalihkan makna, tetapi juga mempertahankan nuansa dan alur cerita yang sesuai dengan dunia imajinasi mereka. Dalam konteks tersebut, analisis teknik penerjemahan menjadi penting untuk memastikan bahwa terjemahan tetap akurat, berterima, dan mudah dipahami oleh pembaca sasaran. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis teknik penerjemahan yang digunakan dalam cerita rakyat The Turtle Stone, khususnya pada bagian naratif cerita untuk melihat bagaimana teknik tersebut memengaruhi kejelasan, konsistensi, dan nuansa terjemahan.Dengan menerapkan pendekatan metode deskriptif kualitatif dan berdasarkan teori teknik penerjemahan dari Newmark (1988), studi ini menemukan lima teknik penerjemahan yang digunakan, yaitu teknik literal, modulasi, modulasi + transposisi, literal + transposisi, dan literal + ekspansi. Hasil temuan dari penelitian menunjukkan bahwa teknik literal muncul sebagai yang paling mendominasi dengan persentase sebesar 59,26%, diikuti oleh modulasi yang mencapai 22,22%, sementara modulasi+ transposisi dan literal + transposisi masing -masing 7,41%, dan literal + ekspansi 3,70%. Teknik literal membantu dalam mempertahankan akurasi dan konsistensi makna, sedangkan modulasi serta transposisi meningkatkan sifat alami, fleksibilitas, dan nuansa dalam narasi. Dengan demikian, berbagai teknik ini berkontribusi pada keterbacaan dari terjemahan dan memastikan bahwa alur, pesan, dan pengalaman cerita tetap relevan untuk pembaca anak.