Herman Pieter Louis Wungouw
Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi pada Siswa SMA/K di Kota Kupang Andreas Novembri Sudin; Kristian Ratu; Elisabeth Levina Setianingrum; Herman Pieter Louis Wungouw
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24394

Abstract

ABSTRACT Adolescence represents a transitional developmental stage characterized by significant physical, psychological, and social changes, which increase vulnerability to reproductive health problems. Inadequate levels of knowledge and unfavorable attitudes during this period may lead to various risky sexual behaviors, including premarital sexual intercourse, unintended pregnancy, and the transmission of sexually transmitted infections, including Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). This study aimed to analyze the relationship between the level of knowledge and adolescents’ attitudes toward reproductive health among senior high school and vocational high school students in Kupang City. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population comprised all senior high school and vocational high school students in Kupang City at the selected research sites, with a total sample of 107 students selected using proportionate stratified random sampling and meeting the predefined inclusion and exclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed through univariate and bivariate analyses using the Fisher–Freeman–Halton Exact Test with a significance level of p 0.05. The results showed that the majority of respondents had high to very high levels of knowledge and demonstrated positive attitudes toward reproductive health. Statistical analysis indicated a significant relationship between the level of knowledge and adolescents’ attitudes toward reproductive health (p = 0.001). This study concludes that the level of knowledge is significantly associated with adolescents’ attitudes toward reproductive health, highlighting the need to strengthen reproductive health education in schools to foster positive attitudes and healthy reproductive behaviors among adolescents. Keywords: Adolescents, Attitude and Knowledge, Reproductive Health, Kupang City.  ABSTRAK Remaja mengalami tahap transisi yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan dan sikap yang kurang memadai pada kondisi ini dapat memicu berbagai perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan, serta penularan infeksi menular seksual, termasuk Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi pada siswa SMA/K di Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian meliputi seluruh siswa SMA dan SMK di Kota Kupang yang menjadi lokasi penelitian, dengan jumlah sampel sebanyak 107 siswa yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis melalui analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test dengan tingkat signifikansi p 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi hingga sangat tinggi serta menunjukkan sikap positif terhadap kesehatan reproduksi. Analisis statistik mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi (p = 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi, sehingga penguatan edukasi kesehatan reproduksi di sekolah diperlukan untuk membentuk sikap positif dan perilaku reproduksi yang sehat pada remaja.  Kata Kunci: Remaja, Pengetahuan dan Sikap, Kesehatan Reproduksi, Kota Kupang.  
Hubungan Durasi Screen Time dengan Perkembangan Motorik Kasar pada Anak 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Sikumana dan Puskesmas Tarus Margaretha Ananda Putri; Christina Olly Lada; Nimas Prita Rahajeningtyas Kusuma Wardani; Herman Pieter Louis Wungouw
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24787

Abstract

ABSTRACT The utilization of digital devices by young children in Indonesia, including those in East Nusa Tenggara (NTT), has been steadily rising leading to higher screen time duration. Excessive screen exposure may interfere with gross motor development as children have reduced time for physical movement; therefore, it is necessary to assess the relationship the relationship between screen time exposure and physical skills growth in preschoolers from Sikumana and Tarus Primary Health Centers. To assess the impact of screen time length on gross motor abilities among children aged 2–5 years in the service areas of Sikumana and Tarus Primary Health Centers. The study utilized a quantitative analytic observational design employing a cross-sectional approach. A total of 60 participants were selected via consecutive sampling. Screen time exposure was evaluated with a revised SMALLQ questionnaire, and gross motor development was measured using the Developmental Pre-screening Questionnaire (KPSP). Statistical methods were applied for analysis the Lambda correlation test. There was a significant relationship among screen time duration and gross motor development, although the strength of the correlation was weak (p = 0.026; λ = 0.200). Most children had screen time within the normal category, while 43.3% had excessive duration. Gross motor assessment showed that 76.7% of children had age-appropriate development, while 23.3% did not meet developmental expectations. A significant yet weak correlation exists between device usage patterns and motor skills enhancement among preschoolers aged 2–5 years within the localities of Sikumana and Tarus Health Centers. Keywords: Screen Time, Gross Motor Development, Children Aged 2–5 Years.  ABSTRAK Penggunaan perangkat digital pada anak usia dini di Indonesia, termasuk di NTT, terus meningkat dan membuat durasi screen time anak semakin tinggi. Kondisi ini berpotensi mengganggu perkembangan motorik kasar karena anak memiliki waktu gerak yang semakin berkurang, sehingga perlu diteliti hubungan antara durasi screen time dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia dini di wilayah kerja Puskesmas Sikumana dan Tarus. Mengetahui hubungan antara durasi screen time pada perkembangan motorik kasar anak 2-5 tahun di area kerja Puskesmas Sikumana dan Puskesmas Tarus. Penelitian  kuantitatif dengan desain analitik observasional pendekatan cross sectional. Sampel meliputi 60 responden dipilih melalui consecutive sampling. Instrumen pengukuran meliputi kuesioner modifikasi SMALLQ untuk mengukur durasi screen time dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) aspek motorik kasar. Analisis menggunakan uji korelasi lambda. Hasil penelitian melihatkan terdapat korelasi signifikan durasi screen time dan perkembangan motorik kasar anak, meskipun kekuatan hubungannya lemah (p=0,026; λ=0,200). Mayoritas anak mempunyai durasi screen time berada dikategori normal, namun masih terdapat 43,3% anak dengan screen time berlebih. Pengukuran KPSP juga menunjukkan mayoritas anak memiliki perkembangan motorik kasar sesuai usia, tetapi masih ada 23,3% anak dengan perkembangan yang belum sesuai. Terdapat hubungan signifikan durasi screen time dan perkembangan motorik kasar anak, meskipun kekuatan hubungannya lemah anak 2-5 tahun di area kerja Puskesmas Sikumana dan Puskesmas Tarus. Kata Kunci: Screen Time, Perkembangan Motorik Kasar, Anak 2-5 Tahun.