Yuswanto Setyawan
Fakultas Kedokteran , Universitas Ciputra Surabaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sanitasi Destinasi dan Ketahanan Tubuh: Diare sebagai Risiko Tersembunyi Wisatawan Anik Suharna; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21837

Abstract

ABSTRACT Traveler’s diarrhea remains one of the most frequent health issues encountered during travel, especially in destinations with inadequate sanitation. Environmental factors such as water quality, waste disposal, and food hygiene play a critical role in determining exposure to enteric pathogens. Additionally, the immune resilience of the traveler significantly affects susceptibility to gastrointestinal infections. This study aimed to examine the correlation between destination sanitation and immune resilience with the incidence of diarrhea among tourists. A quantitative cross-sectional design was employed, involving 100 respondents who had visited tropical areas within the past six months. Data were collected using a questionnaire adapted from the Health Belief Model and analyzed using chi-square and Spearman correlation tests. The results revealed a significant association between poor sanitation and diarrhea incidence (p 0.05), while lower immune resilience was positively correlated with increased diarrhea risk (ρ = 0.452; p 0.01). These findings highlight the need for comprehensive prevention strategies, including health education, immunization, and improved hygiene infrastructure at tourism destinations. Traveler’s diarrhea, although often overlooked, poses a serious threat to travel comfort and safety. Keywords: Traveler’s Diarrhea, Sanitation, Immune Resilience, Healthy Tourism  ABSTRAK Diare wisatawan merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap terjadi selama perjalanan, terutama ketika mengunjungi destinasi dengan tingkat sanitasi yang buruk. Faktor lingkungan seperti kualitas air, pengolahan limbah, dan kebersihan makanan berperan besar dalam memengaruhi risiko diare. Di sisi lain, ketahanan tubuh individu juga menentukan seberapa rentan seseorang terhadap infeksi enterik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara kondisi sanitasi destinasi dan ketahanan tubuh terhadap kejadian diare pada wisatawan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang terhadap 100 responden yang melakukan perjalanan ke daerah tropis dalam enam bulan terakhir. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dikembangkan berdasarkan model Health Belief Model, dianalisis menggunakan uji chi-square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanitasi buruk secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare (p 0,05), sementara ketahanan tubuh yang rendah juga memperbesar risiko diare secara bermakna (ρ = 0,452; p 0,01). Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap faktor lingkungan dan kondisi kesehatan wisatawan sebelum melakukan perjalanan. Strategi pencegahan berupa edukasi kesehatan, vaksinasi, dan peningkatan sanitasi destinasi dapat mengurangi risiko diare sebagai penyakit tersembunyi yang mengancam kenyamanan wisata. Kata Kunci: Diare Wisatawan, Sanitasi, Ketahanan Tubuh, Pariwisata Sehat
Analisis Hubungan Riwayat Konsumsi Kopi Terhadap Gangguan Tidur Pada Pegawai Kantor Felicia Kwando; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21514

Abstract

ABSTRACT Caffeine, commonly found in coffee, is widely consumed by working adults to maintain alertness. However, excessive intake may interfere with sleep regulation. This study aimed to analyze the relationship between coffee consumption history including frequency and daily caffeine dose and sleep disturbances among office employees. This research used a quantitative correlational design involving 150 office workers in City X. Data were collected using validated questionnaires and analyzed with Spearman correlation tests. There was a significant negative correlation between coffee consumption frequency and sleep onset (ρ = -0.482; p 0.001), daily caffeine intake and sleep quality (ρ = -0.524; p 0.001), as well as a combined effect of frequency and dose on overall sleep disturbance (ρ = -0.496; p 0.001). Coffee consumption is a notable factor influencing sleep among office workers. Both how often and how much coffee is consumed impact sleep onset and quality, making this behavior a relevant aspect in workplace health management. Keywords: Coffee Intake, Caffeine, Sleep Quality, Office Workers, Spearman Correlation ABSTRAK Kafein yang terkandung dalam kopi merupakan stimulan yang umum dikonsumsi oleh pekerja untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, asupan berlebih dapat mengganggu kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara riwayat konsumsi kopi meliputi frekuensi dan dosis harian kafein—dengan gangguan tidur pada pegawai kantor. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 150 responden pegawai kantor di Kota X. Data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Ditemukan hubungan negatif yang signifikan antara frekuensi konsumsi kopi dan onset tidur (ρ = -0,482; p 0,001), jumlah kafein harian dan kualitas tidur (ρ = -0,524; p 0,001), serta kombinasi keduanya terhadap tingkat gangguan tidur secara keseluruhan (ρ = -0,496; p 0,001). Konsumsi kopi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap gangguan tidur pada pegawai kantor. Baik frekuensi maupun dosis harian kafein memiliki peran terhadap kualitas dan kemudahan tidur, sehingga penting untuk diperhatikan dalam program kesehatan kerja. Kata Kunci: Konsumsi Kopi, Kafein, Kualitas Tidur, Pegawai Kantor, Korelasi Spearman
Frekuensi Konsumsi Pepaya Sebagai Prediktor Gejala Wasir: Cross Sectional Study Wargiati Wargiati; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22225

Abstract

ABSTRACT Hemorrhoids remain a common anorectal disorder with increasing prevalence, often associated with low dietary fiber intake. This study aims to determine the relationship between papaya consumption and hemorrhoidal symptoms among adults. A cross-sectional analytical study was conducted involving 220 respondents, equally divided between men and women. Data were collected through food frequency questionnaires and the Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), which assesses bleeding, pain, itching, swelling, and incomplete evacuation. The analysis used Chi-Square and Spearman correlation tests. The results showed a strong negative correlation between papaya consumption frequency and hemorrhoid symptom severity. Respondents who consumed papaya more than five times per week had notably milder or no symptoms compared to those who rarely or never consumed it. This finding suggests that regular papaya intake, due to its high fiber, papain enzyme, and anti-inflammatory content, may significantly reduce the risk and severity of hemorrhoids. The study concludes that papaya can be promoted as a practical, affordable, and culturally acceptable preventive food option for hemorrhoid control in community settings. Keywords: Papaya, Hemorrhoids, Dietary fiber, Hemorrhoidal Symptom Score, Prevention  ABSTRAK Wasir tetap menjadi gangguan anorektal yang umum dengan prevalensi yang meningkat, seringkali terkait dengan asupan serat makanan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi pepaya dan gejala wasir pada orang dewasa. Studi analitik potong lintang dilakukan dengan melibatkan 220 responden, terbagi sama antara laki-laki dan perempuan. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi makanan dan Hemorrhoidal Symptom Score (HSS), yang menilai perdarahan, nyeri, gatal, pembengkakan, dan evakuasi yang tidak tuntas. Analisis menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang kuat antara frekuensi konsumsi pepaya dan tingkat keparahan gejala wasir. Responden yang mengonsumsi pepaya lebih dari lima kali per minggu mengalami gejala yang lebih ringan atau bahkan tidak mengalami gejala dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsinya. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pepaya secara teratur, karena kandungan serat, enzim papain, dan sifat antiinflamasi yang tinggi, dapat secara signifikan mengurangi risiko dan keparahan wasir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pepaya dapat dipromosikan sebagai pilihan makanan pencegahan yang praktis, terjangkau, dan dapat diterima secara budaya untuk pengendalian wasir di masyarakat. Kata Kunci: Pepaya, Wasir, Serat makanan, Hemorrhoidal Symptom Score, Pencegahan
Kebiasaan Hidrasi dan Kaitannya dengan Luaran Klinis pada Pasien dengan Diabetes Insipidus (DI) Indratiawati Indratiawati; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i10.22094

Abstract

ABSTRACT Diabetes insipidus (DI) is a rare water balance disorder characterized by polyuria and polydipsia, potentially leading to dehydration, hypernatremia, and reduced quality of life. Adequate hydration is crucial to prevent complications and improve clinical outcomes. This study aimed to determine the relationship between hydration habits and clinical outcomes in DI patients.A cross-sectional study was conducted involving 150 DI patients at RS X in Surabaya from January to June 2025. Hydration habits were measured using a validated structured questionnaire, while clinical outcomes were assessed from serum sodium levels, urine osmolality, and hospitalization frequency. Data analysis used Chi-square and Spearman’s correlation tests with a significance level of p 0.05.Patients with good hydration habits had a lower incidence of hypernatremia (12.5% vs. 47.8%) and fewer hospitalizations (mean 0.6 vs. 2.1 times/year) compared to those with poor hydration (p = 0.004). Spearman’s correlation showed a significant positive correlation between hydration scores and clinical outcomes (r = 0.642, p 0.001). Good hydration habits are significantly associated with improved clinical outcomes in DI patients, supporting the importance of patient education and continuous hydration monitoring. Keywords: Diabetes Insipidus, Hydration Habits, Clinical Outcomes, Hypernatremia  ABSTRAK  Diabetes insipidus (DI) merupakan kelainan keseimbangan cairan yang jarang terjadi, ditandai dengan poliuria dan polidipsia, yang dapat mengakibatkan dehidrasi, hipernatremia, dan penurunan kualitas hidup. Kebiasaan hidrasi yang memadai sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan luaran klinis. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kebiasaan hidrasi dengan luaran klinis pada pasien DI.Penelitian potong lintang dilakukan pada 150 pasien DI di RS X Surabaya periode Januari–Juni 2025. Kebiasaan hidrasi diukur menggunakan kuesioner terstruktur yang telah divalidasi, sedangkan luaran klinis dinilai dari kadar natrium serum, osmolaritas urin, dan frekuensi rawat inap. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p 0,05.Pasien dengan kebiasaan hidrasi baik memiliki kejadian hipernatremia lebih rendah (12,5% vs. 47,8%) dan frekuensi rawat inap lebih sedikit (rata-rata 0,6 vs. 2,1 kali/tahun) dibandingkan dengan kebiasaan hidrasi buruk (p = 0,004). Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara skor hidrasi dan luaran klinis (r = 0,642; p 0,001).Kebiasaan hidrasi yang baik berhubungan signifikan dengan perbaikan luaran klinis pada pasien DI, sehingga edukasi pasien dan pemantauan hidrasi berkelanjutan sangat diperlukan.  Kata Kunci: Diabetes Insipidus, Kebiasaan Hidrasi, Luaran Klinis, Hipernatremia
Hubungan Aktivitas Panitia Lomba Agustusan dengan Keluhan Kelelahan dan Gangguan Kesehatan Ringan Mohamad Wiyono; Yuswanto Setyawan
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22199

Abstract

ABSTRACT  This study explores the relationship between the activity intensity of community committees during Indonesian Independence Day celebrations and the occurrence of fatigue-related health complaints such as dizziness, mild fever, and “masuk angin” (a common local term for malaise). The purpose was to analyze whether increased organizational workload is associated with higher risk of health disturbances among volunteers. The research applied an observational analytic design using a cross-sectional approach with a sample of 135 respondents, analyzed using Chi-Square and Spearman correlation tests. The results indicated a significant relationship between committee activity levels and reported health complaints, confirming that excessive workload and insufficient rest may increase the risk of mild health disorders. The study concludes that proper task distribution, adequate rest, and preventive health education are essential to protect committee members’ well-being during large-scale community events. Future research is recommended to integrate psychosocial, environmental, and lifestyle factors for a more comprehensive understanding of health risks associated with volunteer workloads. Keywords: Committee Activity, Fatigue, Health Complaints, Community Events  ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara intensitas aktivitas panitia pada perayaan Hari Kemerdekaan dengan munculnya keluhan kesehatan terkait kelelahan seperti pusing, meriang, dan masuk angin. Tujuan penelitian adalah menganalisis apakah beban kerja panitia yang meningkat berhubungan dengan risiko gangguan kesehatan ringan pada relawan. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 135 responden, serta analisis dilakukan dengan uji Chi-Square dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat aktivitas panitia dengan keluhan kesehatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa beban kerja berlebih dan kurangnya waktu istirahat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ringan. Penelitian ini menekankan pentingnya pembagian tugas yang proporsional, istirahat yang cukup, serta edukasi pencegahan kelelahan untuk menjaga kesehatan panitia dalam kegiatan komunal berskala besar. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengintegrasikan faktor psikososial, lingkungan, dan gaya hidup guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai risiko kesehatan akibat beban kerja panitia. Kata kunci: Aktivitas Panitia, Kelelahan, Keluhan Kesehatan, Kegiatan Masyarakat