QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) hadir sebagai inovasi pembayaran nontunai yang diinisiasi oleh Bank Indonesia untuk mendorong efisiensi dan inklusi keuangan, khususnya di kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, tingkat adopsi QRIS oleh pelaku UMKM mikro di Bandung Raya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi QRIS dengan menggunakan pendekatan Technology–Organization–Environment (TOE) Framework. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner terhadap 99 pelaku UMKM mikro di wilayah Bandung Raya. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui software RStudio dengan bantuan paket SEMinR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived benefits dan competitive pressure memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap adoption of QRIS. Sementara itu, faktor security, technology readiness, dan infrastructure availability tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi manfaat QRIS dan tekanan kompetitif dari lingkungan eksternal menjadi pendorong utama dalam keputusan adopsi QRIS oleh UMKM mikro. Penelitian ini memperkuat validitas TOE Framework dalam konteks adopsi teknologi di sektor UMKM serta memberikan rekomendasi bagi regulator dan penyedia layanan keuangan untuk memfokuskan strategi peningkatan adopsi QRIS. Kata kunci— QRIS, UMKM, Adopsi Teknologi, TOE Framework, PLS-SEM, Bandung Raya