Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis (1) Modal sosial yang dibangun oleh rombongan belajar vokasional di SLBN 1 Yogyakarta. (2) Modal sosial yang digunakan oleh sekolah dan keluarga untuk membangun usaha berdasarkan keahlian vokasional yang sudah dipelajari anak dengan hambatan intelektual di SLBN 1 Yogyakarta, dan (3) Faktor pendukung dan penghambat dalam penggunaan modal sosial pada rombongan belajar vokasional untuk anak dengan hambatan intelektual di SLBN 1 Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Objek penelitiannya adalah pendidikan keahlian vokasional dan modal sosial yang melibatkan pimpinan dan satu wakil pimpinan SLBN 1 Yogyakarta, empat orang guru rombongan belajar SLBN 1 Yogyakarta, dan tiga orang wali murid SLBN 1 Yogyakarta. Teknik yang digunakan untuk menghimpun data, yakni teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian uji validitas data diuji dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Sedangkan, analisis data menggunakan teknik Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Terdapat sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh sekolah dan orang tua dalam proses membangun modal sosial (kepercayaan, norma dan nilai, jejaring kemitraan serta partisipasi; 2) Sekolah dan keluarga mempunyai strategi dengan pendekatan yang adaptif, holistik, dan kolaboratif dalam menggunakan modal sosial untuk membangun usaha berdasarkan keahlian vokasional yang sudah dipelajari peserta didik; dan 3) Terdapat faktor pendukung penggunaan modal sosial pada rombongan belajar keahlian vokasional untuk anak dengan hambatan intelektual di SLBN 1 Yogyakarta, seperti sarana prasarana yang memadai di setiap rombongan belajar, partisipasi aktif orang tua dan guru, peserta didik bersikap terbuka atas kesulitan yang dialami, dan jalinan kemitraan yang dibangun oleh sekolah dengan pihak Dunia Usaha Dunia Industri maupun lembaga pendidikan. Di samping itu juga terdapat faktor penghambat hal tersebut, yakni kondisi emosional peserta didik yang kompleks, stigma negatif masyarakat, penerimaan orang tua pada anak, kondisi ekonomi orang tua peserta didik yang berada di posisi menengah ke bawah.