Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL KEAGMAAN PADA JAMAAH TAREKAT NAQSABANDIYAH DI PASAMAN BARAT : PERSPEKTIF TINDAKAN SOSIAL MAX WEBER Dina Lorenza; Abdul Gaffar
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.12807

Abstract

The change in religious social behavior is one of the most intriguing social phenomena to study within the context of a religious community. In Pasaman Barat, the zikr practice performed by the congregation of the Naqshbandiyah Order at Surau Baiturrahman Lubuak Landua has a significant influence on shaping character and religious social behavior. This study aims to examine how zikr practices within the Naqshbandiyah Order contribute to the transformation of the congregation’s religious social behavior and to analyze it through the perspective of Max Weber’s theory of social action. This research employs a qualitative approach with a case study method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The informants consisted of the mursyid, khalifah, and members of the Naqshbandiyah congregation. Data were analyzed through stages of data reduction, presentation, and conclusion drawing, with data validity ensured through source and method triangulation. The findings reveal that collective zikr activities play a vital role in fostering discipline, patience, sincerity, and social awareness among the congregation. From Max Weber’s perspective, the congregants’ behavior reflects four types of social action: value-rational, instrumental-rational, traditional, and affective actions. Among these, value-rational action is the most dominant, as zikr is performed with spiritual awareness as an expression of devotion to Allah SWT. Thus, the Naqshbandiyah Order plays an essential role in shaping religious, harmonious, and socially conscious behavior within the Lubuak Landua community.
Disfungsi Keluarga dan Dampaknya terhadap Anak pada Keluarga Broken Home di Nagari Tanjung Pondok Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan Meki Safrianto; Vivi Yulia Nora; Abdul Gaffar; Noor Fadlli Marh
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk disfungsi keluarga serta dampaknya terhadap anak pada keluarga broken home di Nagari Tanjung Pondok, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari keluarga broken home, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama disfungsi keluarga, yaitu disfungsi peran, disfungsi afeksi, dan disfungsi ekonomi. Disfungsi peran ditandai dengan ketidakseimbangan tanggung jawab dalam keluarga, di mana anak turut mengambil peran orang tua. Disfungsi afeksi terlihat dari kurangnya perhatian, komunikasi, dan kehangatan emosional antaranggota keluarga. Sementara itu, disfungsi ekonomi ditandai dengan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar. Faktor penyebab disfungsi keluarga meliputi kurangnya kesiapan dalam membina rumah tangga, kesibukan orang tua, perselingkuhan, dan perceraian. Dampak disfungsi keluarga terhadap anak meliputi aspek sosial, ekonomi, dan keagamaan. Anak cenderung mengalami kesulitan berinteraksi, penurunan motivasi belajar, keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar, serta menurunnya praktik keagamaan akibat kurangnya bimbingan orang tua. Penelitian ini menegaskan bahwa disfungsi keluarga merupakan masalah sosial yang berdampak luas dan memerlukan perhatian berbagai pihak.
Transformasi Interaksi Sosial Keagamaan Melalui Teknologi Artificial Intelligence (AI) Penggunaan ChatGPT Pada Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Ratu Azzahra; Abdul Gaffar
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8435

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), khususnya ChatGPT, telah membawa perubahan dalam cara mahasiswa memperoleh dan memaknai pengetahuan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana transformasi keagamaan serta perubahan interaksi sosial keagamaan mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi melalui penggunaan ChatGPT. Fokus penelitian ini tidak hanya melihat pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu belajar, tetapi juga sebagai bentuk interaksi sosial baru antara manusia dan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasiswa dari berbagai angkatan serta satu orang dosen Prodi Sosiologi Agama. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi sumber untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT telah menggeser pola pencarian pengetahuan keagamaan mahasiswa. Jika sebelumnya mahasiswa lebih banyak bertanya kepada dosen, ustadz, atau forum kajian, kini ChatGPT menjadi alternatif utama karena dinilai praktis, cepat, dan mudah diakses. Transformasi ini juga memengaruhi interaksi sosial keagamaan, di mana mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan manusia, tetapi juga membangun relasi dialogis dengan teknologi. Namun demikian, penggunaan ChatGPT juga memiliki keterbatasan, terutama terkait validitas sumber dan kedalaman pemahaman keilmuan. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara agen (mahasiswa) dan struktur (teknologi AI), sebagaimana dijelaskan dalam teori strukturasi Anthony Giddens, yang membentuk praktik sosial keagamaan baru di era digital.