Lingkungan belajar pada anak usia golden age berperan penting dalam menstimulasi perkembangan sensorik, kognitif, dan sosial. Namun, banyak ruang belajar prasekolah termasuk di sekolah-sekolah KB-TK berbasis katolik belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan eksplorasi multisensori yang mendukung kreativitas dan kemandirian anak. Penelitian ini bertujuan merumuskan kebutuhan ruang dan konsep perancangan interior pada Sekolah KB–TK Santo Paulus Jakarta sebagai studi kasus dengan potensi penerapan interior berbasis multisensori pada sekolah KB-TK berbasis Katolik lainnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam kondisi eksisting interior melalui aspek multisensori (visual, auditori, taktil, olfaktori, dan kinestetik). Data dikumpulkan melalui survei dan observasi lapangan, dokumentasi visual, serta wawancara mendalam dengan guru serta pihak sekolah. Analisis data dilakukan secara deskriptif tematik untuk mengidentifikasi potensi, kendala, dan kebutuhan pengembangan ruang belajar yang dilakukan juga dengan memberikan kuesioner kepada praktisi desainer interior dan arsitek. Keseluruhan hasil penelitian menunjukkan perlunya zonasi ruang yang responsif terhadap pengalaman multisensori dengan kebutuhan luas ruang yang memadai, khususnya pada area penting seperti lobby dan aula. Tema Creative Explorers dijadikan dasar perancangan untuk pendekatan multisensori, menghadirkan pengalaman belajar melalui stimulasi empat indera utama secara seimbang. Implementasi konsep ini didukung sistem cerdas (smart system) yang mengatur pencahayaan, suara, dan kontrol lingkungan ruang agar lebih adaptif terhadap kebutuhan anak. Memberikan dasar konseptual bagi perancangan interior sekolah anak usia dini khususnya TK Katolik agar menjadi sekolah yang lebih inklusif, kreatif, dan stimulatif.