This Author published in this journals
All Journal Acitya Bhakti
Yepsan
Universitas Kristen Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Program Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Pengungsi dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika: Studi Kasus di Bogor dan Jakarta Susanne A.H. Sitohang; Devina Christania; Jannes Freddy Pardede; Lea Maria Moningka; Yeni Masus; Yepsan
ACITYA BHAKTI Vol. 6 No. 1 (2026): ACITYA BHAKTI
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/acb.v6i1.59037

Abstract

Bahasa merupakan pintu masuk bagi terciptanya koherensi budaya dan kesetaraan dalam kehidupan. Hal inilah yang melandasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Fakultas Sastra dan Bahasa (FSB) untuk memberikan pembelajaran bahasa Indonesia bagi para pengungsi asal Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika yang bernaung di Cipayung, Puncak, Bogor. Melalui artikel ini, ditunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia bagi pengungsi tersebut memberikan manfaat terutama dalam menumbuhkan rasa percaya diri untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang bekerja sama dengan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia ini memberikan pembelajaran kosakata hingga kalimat sederhana untuk berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara menyenangkan dengan metode collaborative dan active learning untuk memberikan kesempatan pada pengungsi untuk saling berkenalan, bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan sesama pengungsi maupun orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Sebagian besar pengungsi belajar kosakata untuk meningkatkan kepercayaan diri, tampil, dan memperkenalkan identitasnya. Dari kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia ini dapat ditunjukkan bahwa mempelajari bahasa Indonesia dapat memberikan kesempatan luas untuk mengenal budaya Indonesia sekaligus membuka ruang selebar-lebarnya bagi pengungsi untuk mengekspresikan diri dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam bergaul dengan masyarakat--mengubah stigma bahwa pengungsi merupakan kelompok yang rentan untuk menjadi manusia seutuhnya yang setara dan diterima.