Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jihad Defensif Sebagai Paradigma Perdamaian: Analisis Pemikiran Wahbah Az-Zuhaili Ahmad Royhan
Jurnal Al-Nadhair Vol 4 No 02 (2025): Al-Nadhair
Publisher : Ma'had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61433/alnadhair.v4i02.157

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep jihad defensif dalam perspektif Wahbah az-Zuhaili dengan fokus pada relevansinya sebagai paradigma perdamaian. Latar belakang penelitian muncul dari reduksi makna jihad yang kerap dipersepsikan semata sebagai peperangan ofensif, menimbulkan stigma negatif terhadap Islam sebagai agama yang identik kekerasan. Kesenjangan antara idealitas normatif jihad dan persepsi publik mengindikasikan minimnya kajian yang mengaitkan jihad defensif dengan tantangan kontemporer, termasuk globalisasi, radikalisme, propaganda digital, dan eskalasi konflik global. Penelitian ini bertujuan mengelaborasi jihad defensif sebagai mekanisme perlindungan diri umat Islam sekaligus merujuk pada nilai-nilai perdamaian universal. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan studi pustaka, menelaah karya Wahbah az-Zuhaili beserta literatur klasik dan kontemporer terkait jihad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jihad defensif dipahami sebagai upaya menjaga agama, jiwa, dan martabat dari agresi, dilaksanakan secara etis, proporsional, dan berlandaskan kemaslahatan. Wahbah az-Zuhaili menegaskan jihad defensif selaras dengan prinsip keadilan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks kontemporer, jihad defensif dapat diterapkan melalui penguatan pendidikan, diplomasi, dialog antaragama, serta penggunaan kekuatan militer sebagai opsi terakhir untuk menjaga stabilitas dan perdamaian global. Temuan ini menegaskan perlunya reinterpretasi jihad sesuai konteks modern, menempatkannya sebagai instrumen perlindungan dan perdamaian, sekaligus mendekonstruksi persepsi negatif yang mengasosiasikan Islam dengan kekerasan.
Freedom of Expression In Indonesia’s Democratic System: A Fiqh Siyasah Analysis From The Perspective of Maqāṣid Asy-Syarī’ah Ahmad Royhan
Siyasah Wa Qanuniyah Vol 3 No 2 (2025): Siyasah Wa Qanuniyah
Publisher : Ma'had Aly Raudhatul Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61842/swq/v3i2.52

Abstract

This study examines freedom of expression in democratic systems from the perspective of maqāṣid asy-syarī‘ah, aiming to analyze the relevance and limitations of the right to express opinions for citizens and their relation to public welfare. The research employs a qualitative library research approach, reviewing classical and contemporary literature on Islamic law, political jurisprudence, the Indonesian constitution, and democratic principles. Analysis focuses on identifying relevant concepts, values, and normative arguments linked to the protection of religion, life, intellect, lineage, and property. The findings indicate that freedom of expression is a fundamental right enabling active citizen participation in public decision-making and governmental oversight. From an Islamic perspective, this right aligns with maqāṣid asy-syarī‘ah, particularly hifẓ al-‘aql, requiring responsible development of intellectual capacity. Freedom of expression is relative and must be exercised with ethics, law, and social responsibility, supporting the achievement of collective welfare without harming individuals or society.