Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN PENGGUNAAN SPOIT TERHADAP MORFOLOGI ERITROSIT SECARA MIKROSKOPIS DI LABORATORIUM KLINIK MAXIMA PROVINSI SULAWESI TENGGARA SUGIRENG, SUGIRENG
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 2 No 02 (2018)
Publisher : Jurnal MediLab Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Laboratorium Klinik umum adalah laboratorium yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan specimen klinik di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, dan imunologi klinik. Sampel darah banyak digunakan di laboratorium untuk pemeriksaan atas indikasi berbagai penyakit. Untuk mendapatkan darah dari pasien banyak metode yang digunakan salah satunya dengan menggunakan spoit sebagai alat pengambilan darah. Jarum besar mengantarkan darah lebih cepat tetapi lebih merusak jaringan, sedangkan jarum kecil kurang merusak jaringan, tetapi pengoleksian darah lebih lambat, dan sel darah dapat terjadi hemolisis saat melewati celah sempit. Jenis penelitian ini adalah penelitian obsevasional analitik yang bersifat studi komparasi. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di Laboratorium Klinik Maxima Kendari, pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling dengan jumlah sampel sebesar 10 orang. Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji komparasi non parametris, Uji Mc. Nemar. Hasil penelitian menunjukkan uji statistic diperoleh nilai ρ value = 0,998 dan (α) 0,05. Karena nilai ρ value > (α) = 0,05 .maka H0 diterima, yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan spoit 1 cc dan spoit 3 cc terhadap penilaian morfologi eritrosit Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan morfologi eritrosit menggunakan spoit 1 cc dengan spoit 3 cc pada proses pengambilan darah. Saran dalam penelitian ini untuk peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian terhadap morfologi eritrosit dengan menggunakan butterfly, dan juga terhadap parameter pemeriksaan lainnya seperti kadar hemoglobin.
FUNGSI GINJAL PENDERITA TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) SETELAH PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS KATEGORI 1 (OAT KAT.1) DI PUSKESMAS KATOBU KABUPATEN MUNA Sugireng, Sugireng
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 3 No 1 JULI (2019): JURNAL MEDILAB
Publisher : Jurnal MediLab Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

                                                                                                                                ABSTRAK Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat diobati dengan Obat Anti Tuberkulosis Kategori 1(OAT Kat.1) selama 6 bulan. Waktu pengobatan yang cukup lama dapat menyebabkan akumulasi dari obat tersebut, yang dapat mempengaruhi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) penderita TB Paru setelah penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Kategori 1 (OAT Kat.1) di Puskesmas Katobu, Kabupaten Muna. Jenis penelitian yang digunakan adalah Cohort Retrospektif dengan jumlah sampel sebanyak 36 orang. Metode pemeriksaan menggunakan Spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden, yang memiliki kadar ureum normal adalah sebanyak 30 responden dan kadar ureum yang abnormal sebanyak 6 responden. Kadar abnormal ini disebabkan karena kurang mengkonsumsi air putih dan banyak mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis. Sementara kadar kreatinin dari 36 responden, 28 responden memiliki kadar kreatinin normal dan 8 responden memiliki kadar kreatinin abnormal. Kadar abnormal ini disebabkan oleh obat-obatan dan makanan yang banyak mengandung garam. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar rata-rata ureum normal yaitu 30 mg/dl dan kadar ratarata ureum abnormal yaitu 55 mg/dl. Kadar rata-rata kreatinin dari 28 responden yang normal yaitu 0,8 mg/dl dan kadar rata-rata kreatinin dari 8 responden yang abnormal yaitu 1,8 mg/dl.