Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM BANING SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DI KABUPATEN SINTANG M. Kurniawan Candra; Surya Aspita; Rezki Handuri
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1898

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Baning merupakan hutan rawa gambut yang terletak di pusat Kota Sintang dan berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan TWA Baning sebagai ruang terbuka hijau di Kabupaten Sintang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kuantitatif dan kualitatif melalui wawancara kepada 40 responden masyarakat sekitar serta pihak pengelola dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Sintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pengetahuan masyarakat mengenai fungsi TWA Baning dikategorikan kuat dengan skor 75,30%. Aspek dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan dikategorikan sangat kuat dengan skor 81,25%, sedangkan aspek kesediaan masyarakat untuk bekerja sama dalam pengelolaan kawasan juga tergolong sangat kuat dengan skor 81,73%. Hasil ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak hanya memahami pentingnya peran TWA Baning dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, tetapi juga memiliki kepedulian dan komitmen tinggi untuk mendukung pengelolaan berkelanjutan kawasan. Kesimpulannya, persepsi masyarakat terhadap TWA Baning secara umum positif dan menjadi modal sosial penting dalam upaya pelestarian ruang terbuka hijau di Kota Sintang.
Ethnobiological Study of Postpartum Ritual Plants and Animals of the Malay Tribe in Semalah Village, Kapuas Hulu Regency Desi Ratnasari; Surya Aspita; Hilda Aqua Kusuma Wardhani; Agus Muliadi
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 12 No 6 (2026)
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v12i6.13788

Abstract

The Semalah Malay community in Kapuas Hulu Regency has a rich cultural heritage, including postpartum rituals that involve traditional healing practices using plants and animals. This knowledge is mainly preserved by village shamans, many of whom are elderly and have no successors, making it vulnerable to loss due to limited intergenerational transmission. In addition, scientific documentation of postpartum ritual biodiversity among this community remains limited. Ethnobiological studies are therefore important for recording local knowledge from the emic perspective and interpreting it through etic analysis. This study aimed to document the plant and animal species used in postpartum rituals by the Semalah Malay community in Semalah Village and to determine their relative cultural importance. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Descriptive statistics were used to calculate the Species Use Value (SUV). The results showed that the Semalah Malay community used 31 plant species and 4 animal species in 8 types of postpartum rituals. Turmeric (Curcuma longa) had the highest SUV among plant species, with a value of 1.78, indicating its central role in several ritual practices. Meanwhile, toman fish (Channa micropeltes) had the highest SUV among animal species, with a value of 1.00, reflecting its importance in postpartum recovery practices. These findings provide baseline ethnobiological data for preserving indigenous postpartum knowledge and supporting biocultural conservation in the Semalah Malay community.